Venezuela: Ketika Pertahanan Tak Sempat Bicara


Mataram — Banyak orang bertanya dengan nada heran: mengapa pertahanan Venezuela seolah tidak ada? Padahal ini sebuah negara, dengan tentara, senjata, dan pengalaman panjang menghadapi tekanan luar. Pertanyaan itu wajar. Tapi justru di situlah letak kekeliruannya. Dalam perang modern, pertahanan tidak selalu runtuh karena kalah bertempur. Ia sering kali dibuat diam sebelum sempat berbicara.
Venezuela, sebagai negara, tidak hidup dalam ruang hampa. Tekanan terhadapnya tidak datang dalam satu malam. Ia hadir bertahun-tahun, perlahan, nyaris sunyi: sanksi ekonomi, isolasi diplomatik, perang narasi, dan delegitimasi politik. Semua itu bekerja bukan untuk menghancurkan tank atau radar, melainkan melemahkan keyakinan bahwa negara masih mampu berdiri utuh.
Di titik tertentu, pertahanan tidak lagi diuji oleh senjata, tetapi oleh waktu dan kepercayaan.
Baca liputan lengkap kategori Militer di Opini Mataram.
Secara formal, Venezuela memiliki sistem pertahanan. Ada tentara, ada struktur komando, ada alutsista. Namun pertahanan hari ini bukan lagi soal siapa paling banyak senjata, melainkan siapa yang masih mampu mengoordinasikan keputusan ketika tekanan datang bersamaan. Ketika pusat kendali goyah, senjata menjadi benda mati.
Perang modern jarang dimulai dengan dentuman. Ia dimulai dengan kebingungan. Komunikasi terputus, elite ragu, perintah tertahan. Dalam kondisi seperti itu, negara tidak roboh karena diserang, tetapi karena tidak sempat memilih bagaimana akan bertahan.
Di sinilah peringatan Rusia kerap terasa relevan. Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, berulang kali mengingatkan bahwa pertahanan sejati tidak dibangun saat krisis sudah di depan pintu. Ia dibangun jauh sebelumnya, saat negara masih tenang dan keputusan bisa diambil tanpa panik. Pertahanan, dalam pandangan ini, bukan sekadar senjata, tetapi kesatuan antara militer, politik, ekonomi, dan kepercayaan publik.
Presiden Rusia Vladimir Putin menyebutnya lebih lugas: negara yang mengabaikan stabilitas internalnya sedang menyiapkan kekalahan yang sunyi. Bukan kekalahan yang disiarkan langsung, tetapi kekalahan yang baru disadari ketika semuanya sudah terlambat.
Venezuela bukan satu-satunya. Sejarah menunjukkan banyak negara yang terlihat kuat di luar, tetapi rapuh di dalam. Ketika tekanan datang serentak, pertahanan tidak jatuh—ia ditinggalkan oleh waktu.
Maka ketika publik melihat seolah-olah Venezuela tidak bertahan, mungkin pertanyaannya bukan di mana pertahanannya? Melainkan: kapan pertahanan itu kehilangan ruang untuk bekerja?
Dalam dunia hari ini, negara bisa kalah tanpa perang terbuka. Dan pertahanan yang paling sulit dibangun bukan yang terlihat di parade militer, melainkan yang bekerja diam-diam: menjaga keyakinan bahwa negara masih utuh, dan keputusan masih berada di tangan sendiri.