Teknologi Low-Tech tapi Cerdas, Teknologi Sederhana Untuk Warga Mataram

Redaksi Opini Mataram

Mataram – Teknologi sering dipersepsikan sebagai sesuatu yang mahal, rumit, dan selalu berkaitan dengan smartphone terbaru atau aplikasi digital. Padahal, dalam kehidupan sehari-hari, terutama di kota seperti Mataram, teknologi justru kerap hadir dalam bentuk yang sangat sederhana. Inilah yang disebut sebagai teknologi low-tech tapi cerdas: solusi yang tidak bergantung pada sistem rumit, namun bekerja efektif karena dirancang sesuai dengan kebutuhan nyata warga dan kondisi lingkungan sekitar.

Pendekatan low-tech tapi cerdas tidak mengejar kecanggihan, melainkan kebermanfaatan. Prinsipnya sederhana—jika sebuah masalah bisa diselesaikan dengan cara yang lebih mudah, murah, dan tahan lama, maka itulah teknologi yang tepat. Di tengah cuaca tropis, ketersediaan sinar matahari yang melimpah, serta pola hidup masyarakat yang masih kuat dengan nilai kebersamaan, solusi semacam ini justru terasa lebih relevan dibanding teknologi modern yang sering kali rapuh dan mahal perawatannya.

Contoh paling dekat bisa kita lihat dari cara rumah-rumah dibuat agar tetap sejuk tanpa pendingin udara. Ventilasi silang yang baik memungkinkan angin mengalir lancar, membuat suhu ruangan lebih nyaman sepanjang hari. Ini bukan teknologi baru, tetapi penerapan pengetahuan sederhana tentang arah angin dan cahaya matahari. Hasilnya nyata: rumah lebih adem dan biaya listrik bisa ditekan tanpa mengorbankan kenyamanan.

Hal serupa juga terlihat pada pemanfaatan air hujan. Dengan penampung sederhana, air yang biasanya terbuang bisa digunakan kembali saat kemarau, entah untuk menyiram tanaman, mencuci, atau keperluan non-minum lainnya. Di saat isu krisis air sering dibicarakan, solusi ini bekerja diam-diam tanpa perlu sensor, aplikasi, atau biaya besar. Ia hanya membutuhkan kesadaran dan sedikit usaha di awal.

Dalam urusan pangan dan ekonomi rumah tangga, teknologi low-tech juga punya peran penting. Pengering ikan atau hasil pertanian berbasis sinar matahari, misalnya, membantu nelayan dan petani menjaga kualitas produk tanpa bergantung pada listrik. Begitu pula kompor biogas rumahan yang memanfaatkan limbah organik, mengubah sisa dapur menjadi energi. Teknologi ini mungkin tidak terlihat modern, tetapi dampaknya langsung terasa di dapur dan dompet keluarga.

Yang menarik, pendekatan low-tech tapi cerdas tidak mematikan kreativitas, justru sebaliknya. Ia mendorong warga untuk berpikir, mencoba, dan memperbaiki sendiri. Teknologi menjadi sesuatu yang dekat, bukan barang asing yang hanya bisa disentuh teknisi. Di titik ini, teknologi bukan lagi soal alat, melainkan soal cara berpikir: bagaimana hidup bisa dibuat lebih mudah dengan sumber daya yang ada.

Pada akhirnya, teknologi terbaik bukan yang paling canggih, melainkan yang paling sesuai. Bagi warga Mataram, solusi sederhana yang tahan panas, hemat biaya, dan mudah dirawat sering kali jauh lebih “cerdas” daripada teknologi mahal yang cepat rusak. Low-tech tapi cerdas mengajarkan satu hal penting: kemajuan tidak selalu datang dari hal rumit, kadang justru dari keputusan untuk menyederhanakan.