Sungai Kotor di Kota Religius: Catatan dari Mataram


Mataram — Sungai itu mengalir di tengah pepohonan yang rimbun. Sekilas, suasananya tampak hijau dan tenang. Namun ketika pandangan diarahkan ke permukaan air, pemandangan berubah. Sampah plastik, sisa limbah rumah tangga, dan berbagai benda tak terurai terlihat mengapung dan tersangkut di tepi sungai. Kondisi ini terekam pada 5 Januari 2026, di sebuah sungai di Kota Mataram, tepatnya di depan SMAN 4 Mataram.
Pemandangan tersebut bukan hal baru bagi warga sekitar. Sungai-sungai kecil yang membelah kawasan permukiman di Mataram kerap menjadi tempat bermuaranya sampah. Bukan karena masyarakat tidak tahu dampaknya, melainkan karena kebiasaan lama yang sulit diubah. Sedikit demi sedikit, sampah dibuang, lalu dibiarkan, hingga akhirnya menumpuk dan mencemari aliran air.
Ironinya, kondisi ini terjadi di kota yang dikenal religius dan multikultural. Mataram dihuni oleh masyarakat dari berbagai latar belakang agama yang menjunjung nilai moral, toleransi, dan kebersamaan. Ajaran tentang kebersihan dan kepedulian terhadap lingkungan kerap disampaikan dalam berbagai kesempatan. Namun sungai yang kotor justru menunjukkan adanya jarak antara nilai yang diyakini dan perilaku sehari-hari.
Baca liputan lengkap kategori Mataram di Opini Mataram.
Padahal, sungai memiliki peran penting dalam kehidupan kota. Ia menjadi saluran air alami, penyangga ekosistem, sekaligus bagian dari ruang hidup warga. Ketika sungai tercemar, dampaknya tidak hanya merusak pemandangan, tetapi juga mengancam kesehatan. Air yang kotor berpotensi menjadi sumber penyakit, menimbulkan bau tak sedap, dan meningkatkan risiko banjir saat musim hujan tiba.
Kondisi sungai ini mencerminkan persoalan yang lebih luas: rendahnya kesadaran kolektif dalam menjaga lingkungan. Pendidikan terus berkembang, akses informasi semakin mudah, namun kebiasaan sederhana seperti tidak membuang sampah ke sungai masih sering diabaikan. Tanpa perubahan perilaku, upaya perbaikan lingkungan akan selalu berjalan di tempat.
Sebagai kota yang masyarakatnya beragam dan menjunjung nilai keagamaan, Mataram sebenarnya memiliki modal sosial yang kuat untuk berubah. Hampir semua ajaran agama menempatkan kebersihan sebagai bagian dari tanggung jawab moral. Sungai yang bersih bukan hanya simbol lingkungan yang sehat, tetapi juga cerminan nilai-nilai yang hidup dalam tindakan nyata.
Foto yang diambil pada awal Januari 2026 ini tidak dimaksudkan untuk menyudutkan siapa pun. Ia hadir sebagai pengingat bahwa menjaga sungai bukan semata tugas pemerintah atau petugas kebersihan. Tanggung jawab itu melekat pada setiap warga. Perubahan dapat dimulai dari langkah kecil: tidak membuang sampah ke sungai, menyediakan tempat sampah di rumah, dan saling mengingatkan di lingkungan sekitar.
Sungai di Kota Mataram masih bisa diselamatkan. Namun hal itu hanya mungkin jika kepedulian tumbuh dari kesadaran bersama. Sebab kota yang religius dan beragam tidak cukup ditandai oleh simbol dan slogan, melainkan oleh cara warganya menjaga ruang hidup yang mereka bagi bersama—termasuk sungai yang terus mengalir di tengah kota.