Saham NINE di Tengah Volatilitas Harga


Mataram – PT Techno9 Indonesia Tbk, yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham NINE, selama ini dikenal sebagai perusahaan penyedia solusi teknologi informasi dan infrastruktur jaringan. Layanan perusahaan mencakup kebutuhan institusi pemerintahan, pendidikan, layanan kesehatan, hingga perusahaan swasta besar. Namun memasuki tahun 2026, emiten ini berada di persimpangan arah bisnis baru yang cukup signifikan. NINE mulai memosisikan diri masuk ke sektor pertambangan global melalui rencana rights issue dan akuisisi aset tambang di Mongolia.
Perubahan arah ini tidak berdiri sendiri. Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi pemegang saham mayoritas baru, Poh Group, yang mendorong diversifikasi sumber pendapatan dan upaya penciptaan nilai jangka panjang bagi pemegang saham. Transformasi ini menjadi babak baru dalam perjalanan NINE yang sebelumnya identik dengan bisnis IT.
Pasang Surut Latar Bisnis dan Arah Transformasi 2026
Sejak melantai di bursa pada Desember 2022, NINE menjalankan bisnis inti sebagai penyedia layanan dan solusi IT. Kegiatan usahanya meliputi penjualan perangkat keras dan perangkat lunak, pemasangan infrastruktur IT, layanan managed services, serta solusi keamanan seperti sistem CCTV dan monitoring.
Baca liputan lengkap kategori Blog di Opini Mataram.
Dalam beberapa tahun terakhir, kinerja keuangan perusahaan belum sepenuhnya stabil. Laporan keuangan menunjukkan tantangan profitabilitas dengan rugi bersih yang tercatat pada beberapa periode. Kondisi ini membuat manajemen perlu mencari sumber pertumbuhan baru di luar bisnis inti.
Memasuki awal 2026, arah korporasi Techno9 Indonesia berubah signifikan seiring masuknya Poh Group asal Singapura sebagai pengendali mayoritas melalui mekanisme penawaran tender wajib sesuai ketentuan OJK dan BEI. Masuknya pengendali baru ini memberi sinyal adanya pergeseran strategi jangka menengah hingga panjang.
Rights Issue dan Akuisisi Aset Tambang Mongolia sebagai Momentum Baru
Untuk mendukung transformasi tersebut, manajemen NINE menyiapkan langkah korporasi berupa rights issue atau penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu. Rights issue ini direncanakan didaftarkan ke OJK pada kuartal II 2026. Skema ini digunakan sebagai mekanisme untuk mengakuisisi aset tambang di Mongolia melalui penerbitan saham baru, bukan dengan menggunakan utang atau kas internal perusahaan.
Selain itu, NINE telah menandatangani opsi pembelian aset tambang Mongolia yang dimiliki entitas afiliasi Poh Group, yakni Poh Golden Ger Resources Pte Ltd. Nilai indikatif aset tersebut diperkirakan berada di kisaran US$100–150 juta atau sekitar Rp1,5–2,5 triliun. Nilai final dan realisasi transaksi masih menunggu persetujuan pemegang saham, OJK, BEI, serta proses uji tuntas atau due diligence lebih lanjut.
Jika rencana ini terealisasi, aset tambang di Mongolia diharapkan menjadi sumber pendapatan baru bagi NINE. Kontribusi jangka panjangnya akan sangat bergantung pada kesiapan operasional, kerja sama dengan kontraktor EPC+F, serta kondisi pasar komoditas global.
Kinerja Keuangan dan Rasio Fundamental Terbaru
Meski arah bisnis mulai diperluas, bisnis utama Techno9 tetap berada di ranah IT. Karena itu, kondisi fundamental perusahaan tetap menjadi perhatian utama investor. Berikut ringkasan rasio keuangan penting yang umum digunakan untuk membaca kesehatan sebuah emiten.
| Rasio Fundamental | Nilai Terbaru | Catatan |
|---|---|---|
| EPS | −1,27 | Rugi per saham (negatif) |
| PER | −105,5x | Tidak relevan karena laba negatif |
| PBV | 8,81x | Harga pasar jauh di atas nilai buku |
| ROA | −7,81 % | Aset belum efisien menghasilkan laba |
| ROE | −8,49 % | Modal belum menghasilkan keuntungan |
| Net Margin | −233 % | Rugi signifikan dibanding pendapatan |
| Debt/Equity | 0,09 | Rasio utang relatif rendah |
Sumber: Laporan interim kuartal II 2025 dan agregator data pasar.
Tabel di atas menunjukkan bahwa perusahaan masih menghadapi tekanan dari sisi profitabilitas. Nilai EPS yang negatif mencerminkan bahwa perusahaan masih mencatat rugi per saham. Dampaknya, rasio PER menjadi negatif sehingga tidak bisa digunakan secara normal sebagai alat valuasi. ROA dan ROE yang juga berada di wilayah negatif menandakan aset dan modal pemegang saham belum mampu menghasilkan keuntungan.
Di sisi lain, rasio debt to equity yang relatif rendah menunjukkan struktur utang perusahaan masih terkendali. Namun rendahnya utang tidak otomatis berarti kondisi keuangan sehat jika bisnis inti belum mampu mencetak laba secara berkelanjutan. PBV yang tinggi menggambarkan harga pasar saham NINE berada jauh di atas nilai bukunya, yang dapat mencerminkan ekspektasi pasar terhadap cerita transformasi bisnis, tetapi juga menyimpan risiko jika kinerja keuangan tidak segera membaik.
Pergerakan Harga Saham di Pasar 2026
Sepanjang awal 2026, saham NINE masih tergolong volatil di Bursa Efek Indonesia. Pada Februari 2026, harga saham bergerak di kisaran IDR 148 hingga IDR 179 per saham, dengan harga terakhir berada di sekitar IDR 156.
Rentang pergerakan ini menunjukkan fluktuasi yang cukup lebar. Volatilitas tersebut kerap dipengaruhi sentimen pasar terkait rencana rights issue, isu akuisisi aset tambang Mongolia, serta dinamika kepemilikan pengendali baru. Bagi pelaku pasar, pergerakan harga seperti ini menuntut kehati-hatian karena perubahan sentimen bisa berdampak cepat terhadap valuasi jangka pendek.
Isu Pendukung dan Tantangan Korporasi
Di luar agenda ekspansi, NINE juga pernah menjadi sorotan pasar modal karena isu piutang usaha yang meningkat pada 2025. Bursa Efek Indonesia sempat meminta penjelasan keterbukaan informasi dari perusahaan terkait pengelolaan piutang tersebut. Hal ini menegaskan bahwa transformasi bisnis tidak hanya soal mencari sumber pendapatan baru, tetapi juga memperbaiki tata kelola operasional dan kesehatan neraca perusahaan.
Isu-isu seperti pengelolaan piutang, efisiensi biaya, dan stabilitas pendapatan dari bisnis inti IT akan tetap menjadi variabel penting dalam menilai keberlanjutan kinerja NINE ke depan.
Peluang dan Risiko yang Perlu Dibaca Seimbang
Melihat posisi NINE di 2026, ada dua sisi yang perlu dibaca secara bersamaan.
Dari sisi peluang, rights issue dan rencana integrasi aset tambang Mongolia membuka ruang diversifikasi bisnis di luar sektor IT tradisional. Dukungan pemegang saham mayoritas juga memberi momentum strategis bagi pengembangan usaha berskala lebih besar. Jika proyek tambang terealisasi sesuai rencana, NINE berpotensi memiliki sumber pendapatan baru yang signifikan.
Namun dari sisi risiko, fundamental perusahaan masih mencatat rugi bersih. Profitabilitas perlu diperbaiki agar transformasi bisnis tidak hanya menjadi cerita naratif, tetapi juga tercermin pada kinerja keuangan. Rights issue berpotensi menimbulkan dilusi kepemilikan saham publik, sementara nilai aset tambang belum final sampai seluruh persetujuan regulator dan proses uji tuntas terpenuhi.
Bagi pembaca dan investor, dinamika NINE di 2026 menarik untuk dicermati sebagai contoh bagaimana emiten teknologi mencoba melakukan lompatan strategis ke sektor berbeda. Pertanyaannya bukan sekadar apakah transformasi ini ambisius, tetapi sejauh mana manajemen mampu menerjemahkan rencana besar tersebut menjadi kinerja yang nyata dan berkelanjutan
Catatan Redaksi
Artikel ini disusun berdasarkan informasi dan data yang tersedia dari laporan resmi perusahaan, keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, serta pemberitaan media ekonomi nasional dan internasional pada periode 2025–2026. Seluruh data keuangan, rasio fundamental, serta rencana aksi korporasi yang disebutkan merujuk pada sumber terbuka yang dapat diakses publik.
Redaksi tidak memberikan rekomendasi investasi, tidak mengajak pembaca untuk membeli atau menjual saham tertentu, dan tidak memiliki kepentingan atas pergerakan harga saham yang dibahas. Informasi dalam artikel ini dimaksudkan sebagai bahan bacaan, referensi, dan edukasi bagi pembaca untuk memahami konteks bisnis, kondisi fundamental perusahaan, serta dinamika pasar modal secara lebih utuh.
Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing pembaca. Pembaca disarankan untuk melakukan riset mandiri, membaca laporan keuangan resmi emiten, serta mempertimbangkan profil risiko pribadi sebelum mengambil keputusan terkait instrumen keuangan apa pun.
➤ https://emitennews.com/news/nine-diminta-ungkap-piutang-seret-hingga-rencana-tambang