Rupiah Melemah, Beban Hidup Naik tapi Peluang Masih Terbuka


Mataram, NTB — Nilai tukar rupiah kembali melemah dan sempat menyentuh level terendah dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini memicu perhatian publik karena dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pelaku pasar keuangan, tetapi juga merambat hingga ke kehidupan sehari-hari masyarakat.
Pemerintah pusat menegaskan komitmennya menjaga independensi Bank Indonesia sebagai otoritas moneter. Penegasan ini bertujuan meredam kekhawatiran pasar sekaligus menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan global dan dinamika kebijakan dalam negeri.
Bagi warga Mataram dan Nusa Tenggara Barat, pelemahan rupiah bukan sekadar angka di papan kurs. Efeknya mulai terasa di pasar tradisional, ongkos transportasi, hingga biaya menjalankan usaha kecil, terutama pada sektor yang masih bergantung pada barang impor.
Baca liputan lengkap kategori Ekonomi di Opini Mataram.
Tekanan awal biasanya datang dari sektor energi dan distribusi. Indonesia masih mengimpor sebagian kebutuhan BBM dan LPG, sehingga ketika rupiah melemah, biaya logistik ikut meningkat. Meski harga BBM dan LPG kerap ditahan melalui subsidi, ongkos distribusi barang tetap berpotensi naik dan pada akhirnya memengaruhi harga kebutuhan pokok.
Di sektor pangan, komoditas impor seperti bawang putih, kedelai yang merupakan bahan baku tahu dan tempe serta pakan ternak menjadi yang paling rentan terdorong naik. Di kota seperti Mataram, sinyal kenaikan ini sering kali lebih dulu terasa di pasar tradisional sebelum menyebar ke konsumen.
Barang elektronik dan smartphone juga tidak luput dari dampak. Ponsel, laptop, hingga suku cadang elektronik sebagian besar berbasis impor. Ketika rupiah melemah, harga jual cenderung menyesuaikan, sementara potongan harga menjadi semakin jarang. Bagi UMKM yang mengandalkan bahan baku dari luar negeri, kondisi ini ikut menekan margin usaha.
Tabel Infografik: Dampak Rupiah Melemah
| Kelompok/Sektor | Dampak Utama | Penjelasan Singkat |
|---|---|---|
| Rumah tangga | Biaya hidup naik | Harga pangan impor & transportasi terdorong |
| Konsumen | Elektronik lebih mahal | HP, laptop, TV berbasis impor |
| UMKM impor | Margin tertekan | Bahan baku lebih mahal |
| UMKM lokal | Lebih kompetitif | Produk lokal relatif lebih murah |
| Pariwisata | Berpeluang tumbuh | Wisatawan asing lebih tertarik |
| Eksportir | Diuntungkan | Pendapatan dolar bernilai lebih besar |
Namun pelemahan rupiah tidak selalu membawa kabar buruk. Produk lokal justru menjadi relatif lebih kompetitif dibanding barang impor. Bagi UMKM, pengrajin, serta sektor pertanian dan perikanan NTB, kondisi ini bisa menjadi momentum memperkuat pasar lokal dan mengurangi ketergantungan pada produk luar.
Sektor pariwisata juga berpotensi diuntungkan. Bagi wisatawan mancanegara, rupiah yang melemah membuat biaya berwisata ke Lombok menjadi lebih terjangkau. Jika dikelola dengan baik, peningkatan kunjungan wisatawan dapat mendorong perputaran uang di sektor hotel, kuliner, transportasi, dan jasa lokal.
Pelaku usaha berorientasi ekspor, mulai dari hasil laut, pertanian, hingga pekerja digital yang melayani klien luar negeri akan merasakan dampak positif. Pendapatan berbasis dolar menjadi lebih bernilai saat dikonversi ke rupiah, sehingga memberi ruang tambahan bagi keberlanjutan usaha.
Meski demikian, para analis menilai keuntungan tersebut hanya akan terasa jika pelemahan rupiah bersifat terkendali dan tidak berlangsung terlalu lama. Jika tekanan berlanjut, inflasi berpotensi meningkat dan daya beli masyarakat, terutama kelompok rentan, akan semakin tergerus.

Rupiah yang melemah menjadi pengingat bahwa ekonomi daerah perlu fondasi yang lebih kuat. Ketahanan pangan, produksi lokal, dan UMKM menjadi penyangga agar gejolak global tidak sepenuhnya berubah menjadi beban hidup masyarakat.