Purbaya Bilang Ekonomi Indonesia Lebih Unggul

Redaksi Opini Mataram
Purbaya Bilang Ekonomi Indonesia Lebih Unggul

Mataram, NTB – Pernyataan Purbaya Yudhi Sadewa bahwa ekonom Indonesia “lebih unggul” dibanding negara tetangga menemukan momentumnya di tengah tekanan energi global yang kembali meningkat pada awal 2026. Argumen tersebut bertumpu pada satu indikator yang paling mudah diverifikasi publik: harga bahan bakar minyak (BBM). Ketika sebagian besar negara Asia Tenggara menghadapi lonjakan tajam, Indonesia relatif mampu menjaga harga tetap stabil.

Namun di balik klaim itu, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah stabilitas ini mencerminkan keunggulan struktural, atau sekadar hasil dari intervensi kebijakan yang mahal?


Disparitas Harga Energi di ASEAN

Kontras harga BBM di kawasan semakin terlihat dalam data terbaru. Di Singapura, harga bensin mencapai kisaran US$2,5–3 per liter atau setara Rp43.000 hingga hampir Rp55.000 per liter di SPBU premium. Lonjakan ini mencerminkan sistem harga berbasis pasar penuh tanpa subsidi, di mana konsumen langsung menanggung fluktuasi global. Menurut laporan CNBC Indonesia pada 25 Maret 2026, harga BBM di Singapura menjadi yang tertinggi di kawasan dan nyaris menyentuh Rp55.000 per liter.

Sementara itu, Indonesia mempertahankan harga Pertalite di sekitar Rp10.000 per liter. Bahkan setelah penyesuaian pada BBM nonsubsidi seperti Pertamax yang naik menjadi sekitar Rp12.300 per liter, kesenjangan harga dengan negara tetangga tetap lebar. Data yang dihimpun Economix pada Maret 2026 menunjukkan Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan harga BBM paling rendah di ASEAN.

Perbandingan regional memperlihatkan pola yang konsisten: negara dengan mekanisme harga pasar seperti Singapura, Thailand, dan Filipina mengalami lonjakan lebih tajam, sedangkan negara dengan intervensi pemerintah mampu menahan harga di tingkat konsumen.


Krisis Energi dan Transmisi Harga Global

Lonjakan harga ini tidak berdiri sendiri. Tekanan berasal dari dinamika global yang kembali memanas, terutama gangguan distribusi energi akibat ketegangan geopolitik. Jalur strategis seperti Selat Hormuz—yang menyuplai sekitar seperlima kebutuhan minyak dunia—menjadi titik krusial dalam menentukan arah harga energi global.

Menurut laporan MetroTV News pada 2026, gangguan di jalur tersebut mendorong harga minyak mentah dunia kembali menembus di atas US$100 per barel. Kenaikan ini segera ditransmisikan ke negara-negara yang menerapkan harga pasar penuh.

Dampaknya terlihat jelas di Filipina dan Thailand, di mana harga BBM meningkat dalam waktu singkat mengikuti tren global. Bahkan di Vietnam, lonjakan harga dalam periode tertentu dilaporkan mencapai puluhan persen. Data Economix pada 2026 mencatat bahwa tekanan harga di negara-negara tersebut terutama dipicu oleh ketergantungan pada impor energi.

Fenomena ini menegaskan bahwa krisis energi di ASEAN lebih merupakan krisis transmisi harga global daripada krisis pasokan murni.


Indonesia dan Peran Negara sebagai Penyangga

Di tengah tekanan tersebut, Indonesia mengambil pendekatan berbeda. Pemerintah menggunakan anggaran negara sebagai bantalan untuk meredam dampak kenaikan harga global. Melalui subsidi dan kompensasi energi, lonjakan harga tidak sepenuhnya diteruskan ke konsumen.

Peran Pertamina menjadi sentral dalam menjaga distribusi dan stabilitas pasokan domestik. Menurut laporan Kontan pada Maret 2026, kebijakan ini tetap dipertahankan meskipun harga minyak dunia telah melampaui asumsi APBN 2026 yang berada di kisaran US$70 per barel.

Pendekatan ini terbukti efektif dalam jangka pendek. Inflasi energi dapat ditekan, daya beli masyarakat relatif terjaga, dan risiko gejolak sosial akibat lonjakan harga berhasil diminimalkan. Namun, efektivitas tersebut datang dengan konsekuensi fiskal yang tidak kecil.


Membaca Ulang Klaim Keunggulan

Dalam konteks ini, klaim Purbaya perlu dibaca secara lebih hati-hati. Stabilitas harga BBM memang menunjukkan kapasitas kebijakan yang kuat, tetapi tidak otomatis mencerminkan keunggulan absolut para ekonom.

Negara seperti Singapura tidak menahan harga energi bukan karena kelemahan kebijakan, melainkan karena pilihan strategis untuk menjaga efisiensi pasar dan transparansi harga. Sebaliknya, Indonesia memilih menahan harga untuk menjaga stabilitas sosial dan ekonomi domestik.

Perbedaan ini mencerminkan trade-off klasik dalam kebijakan energi: antara stabilitas harga dan beban fiskal. Indonesia berada di sisi stabilitas, sementara negara lain memilih fleksibilitas pasar.


Ketahanan atau Penundaan Risiko?

Data terbaru menunjukkan Indonesia memang relatif lebih tahan terhadap guncangan harga energi dibanding sebagian negara ASEAN. Dalam arti itu, klaim Purbaya memiliki dasar empiris yang tidak bisa diabaikan.

Namun, ketahanan ini bersifat kondisional. Ia bergantung pada kemampuan fiskal negara untuk terus menyerap tekanan eksternal. Dalam jangka panjang, subsidi energi berpotensi membatasi ruang belanja produktif dan memperlambat transisi menuju energi yang lebih berkelanjutan.

Dengan demikian, stabilitas yang terlihat hari ini bisa juga dibaca sebagai bentuk penundaan risiko ke masa depan.


Kesimpulan

Indonesia berhasil menjaga harga BBM tetap stabil ketika kawasan mengalami tekanan energi yang signifikan. Ini merupakan capaian kebijakan yang nyata. Namun, menyimpulkan bahwa hal tersebut sepenuhnya mencerminkan keunggulan ekonom Indonesia adalah simplifikasi yang terlalu jauh.

Yang terlihat saat ini adalah hasil dari pilihan kebijakan yang berbeda—bukan perlombaan siapa yang lebih unggul, melainkan bagaimana masing-masing negara menyeimbangkan antara stabilitas, efisiensi, dan keberlanjutan.


Catatan Redaksi

Artikel ini menggabungkan data harga BBM terbaru di ASEAN dengan dinamika geopolitik energi global. Penyebutan sumber dilakukan secara kontekstual untuk menjaga alur baca khas newsroom internasional.


Sumber Rujukan (External Links)