Psikologi Anak dan Peran Orang Tua dalam Kehidupan Sekolah di Kota Mataram


Mataram – Dalam dunia pendidikan, khususnya di Mataram – Lombok, anak tidak hanya dinilai dari kemampuan akademiknya. Cara anak bersikap, mengelola emosi, berinteraksi dengan teman, dan merespons aturan sekolah sangat dipengaruhi oleh kondisi psikologisnya. Psikologi anak menunjukkan bahwa keluarga, khususnya orang tua, adalah lingkungan pendidikan pertama dan paling menentukan sebelum anak mengenal sekolah.
Anak belajar memahami dunia melalui hubungan yang ia rasakan setiap hari di rumah. Ketika orang tua hadir, mendengarkan, dan terlibat dalam aktivitas anak, anak akan tumbuh dengan rasa aman. Rasa aman inilah yang membuat anak berani bertanya di kelas, tidak takut mencoba hal baru, serta mampu menerima koreksi dari guru dengan sikap positif.
Salah satu bentuk keterlibatan orang tua yang paling sederhana namun berdampak besar adalah bermain bersama anak. Dalam psikologi anak, bermain bukan kegiatan yang mengganggu belajar, melainkan bagian dari proses belajar itu sendiri. Saat bermain, anak melatih konsentrasi, kemampuan berbahasa, kerja sama, dan pengendalian emosi. Anak juga belajar mengikuti aturan, bergiliran, serta menghargai orang lain—keterampilan penting dalam kehidupan sekolah.
Baca liputan lengkap kategori Mataram di Opini Mataram.
Bermain bersama orang tua juga memperkuat ikatan emosional. Anak yang memiliki hubungan emosional yang hangat dengan orang tuanya cenderung lebih tenang di sekolah, tidak mudah cemas, dan memiliki kepercayaan diri yang lebih baik. Ia merasa memiliki tempat aman untuk bercerita ketika menghadapi kesulitan belajar atau masalah dengan teman.
Bagi orang tua sekolah, penting untuk memahami bahwa pendampingan tidak selalu berarti mengajari pelajaran. Menemani anak bermain, membaca buku bersama, atau sekadar mengobrol tentang aktivitas di sekolah sudah merupakan bentuk dukungan psikologis yang sangat berarti. Interaksi sederhana ini membantu anak mengaitkan pengalaman di sekolah dengan kehidupan di rumah, sehingga proses belajar terasa lebih utuh.
Durasi bermain tidak harus lama. Waktu singkat namun dilakukan secara rutin dan penuh perhatian—tanpa gawai, tanpa distraksi—jauh lebih efektif. Anak akan merasa dihargai, didengar, dan diakui keberadaannya. Dari sinilah tumbuh sikap disiplin yang sehat, motivasi belajar yang alami, dan karakter positif.
Pada akhirnya, keberhasilan anak di sekolah bukan hanya hasil kerja guru, tetapi juga buah dari keterlibatan orang tua di rumah. Dengan memahami psikologi anak dan meluangkan waktu bermain bersama, orang tua telah membantu membangun fondasi emosional dan mental yang kuat—bekal penting bagi anak untuk belajar, tumbuh, dan berkembang secara seimbang.
Daftar Pustaka (Referensi Parenting & Pendidikan)
- Hurlock, E. B. (2011). Psikologi Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga.
- Santrock, J. W. (2018). Psikologi Pendidikan. New York: McGraw-Hill Education.
- Papalia, D. E., Olds, S. W., & Feldman, R. D. (2009). Human Development. New York: McGraw-Hill.
- Bowlby, J. (1988). A Secure Base: Parent-Child Attachment and Healthy Development. London: Routledge.
- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. (2020). Pendidikan Keluarga dalam Mendukung Tumbuh Kembang Anak.