“Palestine” Dihapus dari Peta British Museum, Sejarah atau Politik yang Menang

Redaksi Opini Mataram
Wajah anak dengan lukisan bendera Palestina di pipi saat aksi solidaritas, simbol identitas Palestina di tengah kontroversi British Museum
photo anak dengan bendera Palestina di pipi, image source: pexels.com / Afaq Hussain

Mataram – Pada pertengahan Februari 2026, British Museum di London mendadak menjadi pusat perbincangan dunia. Lembaga warisan budaya yang setiap tahunnya dikunjungi jutaan orang itu memutuskan menghapus istilah “Palestine/Palestina” dari sejumlah peta dan panel informasi di galeri ancient Middle East. Pihak museum menyatakan, istilah tersebut kini “tidak lagi netral secara historis” dan dianggap kurang akurat ketika diterapkan secara luas pada konteks ribuan tahun silam.

Di balik keputusan itu, terselip dinamika tekanan politik. Kelompok advokat hukum pro-Israel, UK Lawyers for Israel (UKLFI), disebut melayangkan keberatan karena penggunaan istilah “Palestine” pada Levant kuno dinilai menciptakan kesan kontinuitas sejarah yang keliru, seolah-olah identitas politik modern dapat ditarik lurus ke masa kerajaan-kerajaan kuno seperti Israel dan Yehuda. Museum lalu meninjau ulang label pameran, mengganti beberapa istilah dengan yang dianggap lebih kontekstual. Salah satu contohnya, frasa “keturunan Palestina” diubah menjadi “keturunan Kanaan”, karena Kanaan dinilai lebih tepat untuk periode awal sejarah Levant.

Namun, keputusan kuratorial itu segera memantik reaksi luas. Duta Besar Palestina untuk Inggris, Husam Zomlot, mengecam langkah British Museum dan menilai lembaga budaya tidak semestinya menjadi arena tarik-menarik politik. Baginya, penghapusan istilah tersebut bukan sekadar soal label, melainkan simbol yang berpotensi mengaburkan keberadaan dan pengalaman historis rakyat Palestina di ruang publik global. Di media sosial dan platform petisi daring, ribuan orang menyuarakan keberatan. Mereka menilai kebijakan ini tidak berdiri di atas konsensus akademik yang kuat dan berisiko meminggirkan satu narasi sejarah di tengah konflik yang belum usai.

Pihak museum, di sisi lain, menegaskan bahwa istilah “Palestine” tetap digunakan untuk konteks modern sesuai terminologi Perserikatan Bangsa-Bangsa—seperti Gaza, West Bank, dan Israel—serta dalam konteks budaya kontemporer. Yang mereka koreksi, kata museum, adalah penggunaan istilah pada periode kuno yang berpotensi memicu pembacaan anakronistik.

Perdebatan ini membuka pertanyaan lebih besar: sejauh mana museum harus “mensterilkan” bahasa sejarah dari muatan politik masa kini? Istilah “Palestine” memang memiliki jejak panjang dalam sumber klasik—dari sejarawan Yunani kuno hingga penamaan administratif Romawi Syria Palaestina. Tetapi maknanya berubah seiring waktu, dari penanda geografis menjadi identitas politik modern. Di titik inilah garis antara akurasi sejarah dan sensitivitas kontemporer menjadi kabur.

Apa yang tampak sebagai perubahan kecil pada panel pameran, pada akhirnya memperlihatkan bagaimana museum bukan ruang netral sepenuhnya. Ia adalah arena tempat sejarah dituturkan, diperdebatkan, dan—secara tak terhindarkan—ditafsirkan ulang. Di tengah polarisasi global, satu kata di dinding museum pun bisa memantik perdebatan tentang siapa yang berhak mendefinisikan masa lalu.

Timeline Sejarah: Dari Kanaan sampai Kontroversi ‘Palestine’ di British Museum (2026)

📍 ± 3000–1500 SM — Kanaan: Nama Awal Wilayah Levant

Pada milenium kedua sebelum Masehi, wilayah yang kini mencakup Israel, Palestina, Yordania, Libanon bagian selatan, dan Suriah selatan dikenal dalam catatan kuno sebagai Kanaan. Nama ini muncul dalam tablet-tablet Mesir kuno dan literatur Levant sebagai wilayah tempat suku-suku agraris dan komunitas permukiman hidup berdampingan. Istilah Kanaan bersifat geografis netral, merujuk lebih kepada kawasan daripada sebuah negara dengan struktur kenegaraan modern.

👉 Dalam konteks sejarah museum kini, istilah ini sering dipandang lebih tepat untuk artefak era ribuan tahun lalu di Levant.


📍 ± 1200 SM — Philistines/Filistin: Komunitas Pesisir yang Muncul Kuat

Sekitar abad ke-12 SM, prasasti Mesir mencatat sekelompok orang bernama Peleset, yang dikenal di literatur Barat klasik sebagai Philistines (Filistin) — komunitas yang menetap di pesisir selatan Levant, di kota-kota seperti Gaza dan Ashkelon.

Istilah Philistine ini kemudian berkontribusi terhadap penyebutan wilayah oleh penulis Yunani klasik, yang menyebut kawasan itu dengan nama yang mirip, yakni Palaistínē.


📍 ± Abad ke-5 SM — Istilah “Palestine” Muncul dalam Sumber Klasik

Sejarawan Yunani kuno seperti Herodotus menggunakan kata Palaistínē untuk menggambarkan wilayah di pesisir timur Laut Tengah. Penting dicatat bahwa dalam konteks ini “Palestine” tidak merujuk pada negara, tetapi merupakan istilah geografis yang luas, sama seperti sebutan Mesopotamia atau Anatolia.

👉 Ini adalah titik awal penggunaan istilah tersebut dalam literatur klasik Barat.


📍 135–136 M — “Syria Palaestina”: Nama Romawi untuk Wilayah Kuno

Setelah pemberontakan di wilayah Judaea, kekaisaran Romawi mengganti nama administrasi wilayah itu menjadi Syria Palaestina. Tujuan utamanya adalah untuk meremajakan struktur pemerintahan dan melemahkan keterkaitan identitas Yahudi terhadap tanah tersebut. Meski demikian, istilah Palestina tetap lebih sering digunakan secara administratif atau geografis, bukan sebagai negara bangsa terpisah.


📍 Abad Pertengahan–Era Ottoman — Palestine sebagai Wilayah Administratif Umum

Di era Kekaisaran Ottoman (sekitar abad ke-16 sampai awal abad ke-20), istilah Palestine dipakai secara longgar untuk wilayah administratif di Levant oleh para pejabat Eropa yang mendeskripsikan peta kawasan tersebut. Namun istilah ini tidak resmi sebagai unit kenegaraan — ini penting untuk dipahami ketika melihat pengertian istilah dalam konteks sejarah.


📍 1917–1948 — Mandat Inggris & Awal Identitas Nasional Modern

Setelah Perang Dunia I, wilayah Levant menjadi bagian dari Mandat Inggris, dan istilah Palestine dipakai sebagai nama administratif wilayah ini oleh kekuatan kolonial. Pada periode ini, komunitas Arab yang tinggal di sana mulai menggunakan istilah Palestinians sebagai identitas nasional modern — istilah yang berkembang jauh lebih kuat di abad ke-20 dibandingkan masa-masa sebelumnya.

👉 Inilah saat identitas nasional “Palestinian” mulai berakar kuat dalam kesadaran politik dan budaya masyarakat Arab di Levant.


📍 1948–Sekarang — Konflik & Identitas yang Memperkuat Makna “Palestine”

Setelah pembentukan negara Israel pada 1948 dan perang yang menyertai era transisi itu, istilah Palestine dan Palestinians secara politis dan emosional menjadi simbol perjuangan, identitas, dan konflik yang masih berlangsung sampai era modern.

Istilah ini kini mengandung makna ganda:

  • Secara historis, Palestine pernah menjadi sebutan geografis kuno.
  • Secara politik, istilah ini menjadi identitas kebangsaan bagi masyarakat Arab Palestina masa kini.

📍 Februari 2026 — British Museum Menghapus “Palestine” dari Beberapa Peta Pameran

Masuk ke era kini, British Museum, salah satu institusi museum terbesar dunia, memutuskan untuk menghapus istilah “Palestine/Palestina” dari sejumlah peta dan panel informasi di galeri sejarah Timur Tengah kunonya. Museum menyatakan bahwa dalam konteks artefak purba — ribuan tahun sebelum istilah itu dipakai secara modern — kata “Palestine” dianggap tidak netral secara historiografis dan berpotensi menimbulkan kesan kontinuitas historis yang tidak tepat.

Sebagai gantinya, museum memilih istilah yang lebih akurat untuk artefak tertentu — seperti Canaan atau kerajaan-kerajaan kuno pada masa itu — sehingga pameran lebih mencerminkan istilah yang benar-benar dipakai pada periode tersebut.

📌 British Museum tetap memakai istilah seperti Gaza atau West Bank ketika merujuk kepada peta modern sesuai terminologi internasional.
📌 Menurut laporan, museum juga mempertahankan penggunaan “Palestinian” saat berbicara tentang konteks budaya masa kini.
📌 Keputusan ini muncul setelah tekanan dari kelompok hukum advokat tertentu dan kajian internal kuratorial.


📊 Ringkasan Perjalanan Istilah “Palestine”

EraMakna Utama “Palestine”
±3000-1500 SMWilayah Levant dikenal sebagai Kanaan.
±1200 SMPhilistines di pesisir Levant; dasar etimologis nama Palestine.
±500 SMPalaistínē dipakai oleh penulis Yunani sebagai istilah geografis.
135–136 MRomawi beri nama administratif Syria Palaestina.
OttomanSebutan geografi luas tanpa status kenegaraan resmi.
1917–1948Mandat Inggris; istilah Palestine menjadi nama administratif.
1948–sekarangKonflik, identitas modern, inklusif politik.
2026British Museum hapus istilah dari pameran artefak kuno.

Catatan Redaksi

Tulisan ini disusun dengan merujuk laporan media internasional mengenai kebijakan British Museum yang merevisi label pameran dengan menghapus istilah “Palestine” dari beberapa tampilan.

Sumber rujukan utama:

  1. The GuardianBritish Museum removes word ‘Palestine’ from some displays
    Tanggal: 16 Februari 2026
    Link: https://www.theguardian.com/culture/2026/feb/16/british-museum-removes-word-palestine
  2. Arab News – Reaksi Duta Besar Palestina untuk Inggris atas kebijakan British Museum
    Tanggal: 17 Februari 2026
    Link: https://www.arabnews.com
  3. Dawn – Laporan petisi publik menentang penghapusan istilah “Palestine”
    Tanggal: 17 Februari 2026
    Link: https://www.dawn.com

Catatan: Tautan dapat diperbarui mengikuti arsip resmi masing-masing media.