MSCI vs FTSE vs S&P — Siapa, Metodologi, dan Dampak (termasuk kejatuhan IHSG kemarin)

Redaksi Opini Mataram

Inti singkat

MSCI, FTSE Russell, dan S&P Dow Jones adalah pengelola indeks global yang metodologinya menentukan saham apa yang dimasukkan dan berapa besar bobotnya. Perbedaan teknis — cara menghitung free-float, ambang kelayakan, klasifikasi pasar, dan frekuensi rebalancing — menyebabkan perbedaan aliran modal (capital flows) ketika indeks diubah. Ketika salah satu penyedia mengeluarkan pengumuman penting tentang pasar Indonesia akhir Januari 2026, reaksi pasar cepat dan tajam: IHSG mengalami koreksi besar sampai masuk ambang trading-halt.


Siapa mereka (singkat)

  • MSCI (Morgan Stanley Capital International) — sering jadi acuan global untuk “emas” aliran dana ke pasar emerging. MSCI punya kerangka klasifikasi pasar (developed / emerging / frontier) dan metodologi free-float yang ketat.
  • FTSE Russell (bagian LSEG) — operator indeks besar dari London; punya aturan free-float dan ground rules sendiri, baru-baru ini mengusulkan beberapa perubahan kebijakan free-float untuk menarik listing asing.
  • S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) — dikenal lewat S&P 500 dan indeks sektor/tematik; memakai penyesuaian float dan aturan masuk yang fokus pada likuiditas dan kapitalisasi pasar.

Perbedaan metodologis utama (yang berdampak pada arus modal)

  1. Perhitungan dan definisi free-float
    • Semua tiga memakai float-adjusted market cap (hanya saham yang tersedia untuk diperdagangkan dihitung), tetapi mereka mengkategorikan investor yang “non-free” berbeda — contohnya saham pemerintah, pemegang strategis, atau pegangan lintas perusahaan bisa diperlakukan berbeda antar penyedia. Itu mengubah bobot suatu saham di indeks.
  2. Ambang kelayakan dan minimum-float
    • FTSE/ Russell, S&P, dan MSCI menetapkan syarat minimum berbeda (mis. threshold free-float absolute atau persentase, minimum market-cap). FTSE bahkan mengusulkan menurunkan minimum free-float untuk beberapa kasus (kebijakan 2026). Perbedaan ini menentukan apakah sebuah perusahaan masuk indeks tertentu atau tidak.
  3. Klasifikasi pasar & investability
    • MSCI terkenal karena kerangka klasifikasi pasar yang menilai transparansi data, integritas pasar, akses modal, dan kemampuan investor asing untuk mereplika indeks. Jika MSCI menilai ada masalah “investability”, pasar bisa diberi status lebih rendah (mis. dari emergingfrontier), yang akan mengurangi ekspektasi arus modal pasif.
  4. Frekuensi rebalancing & aturan teknis
    • S&P, FTSE, MSCI punya kalender rebalancing — kuartalan, tahunan, atau intrakuartal — dan aturan penghitungan yang berbeda (mis. rounding, cap terhadap single-name concentration). Frekuensi menentukan kapan dana pasif perlu melakukan jual/beli.

Mengapa perbedaan ini penting? (ekonomi nyata)

  • Aliran dana pasif besar: Banyak dana pensiun dan ETF global mengikuti indeks tertentu. Jika saham negara X ditambah bobotnya di MSCI → dana global harus beli; dikurangi/ditahan → dana harus jual.
  • Front-loading & anticipatory moves: Manajer dana kadang melakukan front-loading (jual/beli sebelum rebalancing resmi) sehingga pergerakan terjadi lebih awal dan bisa memperbesar volatilitas.
  • Sentimen & likuiditas: Pengumuman indeks memicu aksi jual cepat pada saham-saham berkapital besar yang terpengaruh, menekan IHSG dan rupiah sementara likuiditas menipis.

Kasus konkret: IHSG anjlok akhir Januari 2026 ini — apa yang terjadi?

Pada 28 Januari 2026, MSCI mengeluarkan pernyataan terkait konsultasi/tinjauan aturan free-float dan masalah investability untuk pasar saham Indonesia. Reaksi pasar sangat cepat: IHSG dibuka ambruk—turun sekitar 6–8% di sesi pembukaan dan sempat mendekati ambang trading-halt; sejumlah laporan menyebut MSCI menahan (hold) proses rebalancing sementara dan memperingatkan potensi downgrade kalau isu tidak diselesaikan. Dampaknya: aksi jual besar dari investor asing dan domestik yang memposisikan ulang portofolionya.


Implikasi jangka pendek dan menengah

  1. Jangka pendek — Volatilitas tinggi, penurunan IHSG, potensi tekanan pada rupiah, dan margin call untuk leverage investor. Banyak saham blue-chip yang menjadi target jual terutama jika bobotnya tinggi di indeks.
  2. Jangka menengah — Jika MSCI menurunkan status atau mengubah free-float secara permanen, arus modal pasif keluar (demand shock) yang bisa menurunkan valuasi index-level dan menaikkan cost of capital untuk perusahaan yang terkena.
  3. Kebijakan & reputasi — Otoritas pasar modal (BEI, regulator) harus cepat memperbaiki transparansi data, keterbukaan kepemilikan, dan proses perdagangan untuk mengembalikan kepercayaan indeks provider. Jika tidak, efek reputasi jangka panjang mengurangi investasi asing.

Apa yang bisa/diharapkan pelaku pasar & pembuat kebijakan

  • Investor institusi: cek eksposur indeks yang jadi acuan (MSCI vs FTSE vs S&P); pertimbangkan hedging volatilitas dan likuiditas; waspadai tracking error jika berpindah indeks.
  • Perusahaan tercatat: tingkatkan keterbukaan pemegang saham besar, tata kelola, dan ketersediaan data free-float agar tidak mengalami penyesuaian bobot yang merugikan.
  • Regulator / BEI: percepat perbaikan feed data, audit kepemilikan, dan komunikasi publik dengan index providers agar potensi downgrade bisa dihindari. Lihat contoh reaksi BEI terhadap gelombang jual ini—keterlibatan regulator krusial.

Kesimpulan

Perbedaan teknis antara MSCI, FTSE Russell, dan S&P bukan sekadar angka di kertas, merekalh yang menentukan siapa yang membeli dan siapa yang menjual miliaran dolar setiap kali metodologi atau klasifikasi berubah. Kasus IHSG akhir Januari 2026 memperlihatkan bagaimana isu teknis (free-float, data investability) bisa memicu krisis kepercayaan dan aksi jual masif dalam hitungan jam. Untuk pasar yang ingin menarik modal global, jawaban bukan sekadar menunggu: itu menuntut transparansi, tata kelola, dan dialog proaktif dengan penyedia indeks.


Referensi pilihan (baca cepat)

  • MSCI — Index Methodology & Market Classification documents.
  • FTSE Russell — Free-float and ground rules (LSEG documents).
  • S&P Dow Jones Indices — Index math & methodology.
  • Laporan berita tentang IHSG yang anjlok setelah pengumuman MSCI (FT, MetroTV, Investing.com, JawaPos)