Mengenal Teori Ekologi Bronfenbrenner: Cara Baru Memahami Kehidupan Sosial di Kota Mataram


Mataram — Perkembangan masyarakat di Kota Mataram kerap dilihat dari pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, atau kebijakan pemerintah daerah. Namun, di balik itu semua, ada faktor yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari warga, yakni lingkungan sosial yang membentuk manusia sejak lahir. Perspektif inilah yang ditawarkan oleh Teori Ekologi Bronfenbrenner, sebuah pendekatan yang membantu kita memahami bahwa individu dan kota tidak bisa dipisahkan dari lingkaran-lingkaran kehidupan di sekitarnya.
Teori ini dikemukakan oleh Urie Bronfenbrenner, seorang psikolog perkembangan yang menegaskan bahwa perilaku manusia adalah hasil dari interaksi berbagai sistem lingkungan. Manusia tidak tumbuh dalam ruang hampa, melainkan di tengah keluarga, sekolah, masyarakat, budaya, hingga perubahan zaman yang terus bergerak.
Lingkaran paling dekat dalam teori ini disebut mikrosistem. Di sinilah keluarga, sekolah, tempat kerja, dan lingkungan pergaulan memainkan peran utama. Dalam konteks Kota Mataram, mikrosistem masih sangat kuat karena hubungan sosial yang relatif dekat. Pola asuh keluarga, kedekatan dengan tetangga, serta peran sekolah menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter anak dan remaja.
Baca liputan lengkap kategori Mataram di Opini Mataram.
Di luar itu terdapat mesosistem, yaitu hubungan antar-lingkungan terdekat. Relasi antara orang tua dan guru, antara warga dan lingkungan sekitar, atau antara pemuda dan tokoh masyarakat menjadi contoh nyata. Ketika komunikasi antar-lingkaran ini berjalan baik, masyarakat akan lebih adaptif dan solid. Sebaliknya, ketika hubungan ini renggang, berbagai persoalan sosial mudah muncul, mulai dari masalah pendidikan hingga konflik lingkungan.
Lingkaran berikutnya adalah eksosistem, yakni sistem yang tidak berinteraksi langsung dengan individu tetapi berdampak besar pada kehidupan mereka. Kebijakan pemerintah daerah, kondisi tempat kerja orang tua, pemberitaan media, hingga kualitas layanan publik termasuk di dalamnya. Di Mataram, keputusan administratif terkait pendidikan, kesehatan, dan tata kota sering kali menentukan kesejahteraan keluarga secara tidak langsung.
Lebih luas lagi, terdapat makrosistem yang mencakup nilai budaya, norma sosial, adat istiadat, dan keyakinan masyarakat. Kota Mataram dikenal dengan budaya Sasak yang kuat dan kehidupan religius yang kental. Nilai gotong royong, sopan santun, dan solidaritas sosial menjadi kekuatan utama. Namun, makrosistem juga menghadirkan tantangan ketika nilai-nilai lama harus berhadapan dengan perubahan sosial yang cepat.
Lingkaran terakhir adalah kronosistem, yang menggambarkan pengaruh waktu dan perubahan zaman. Perkembangan teknologi digital, media sosial, serta pengalaman kolektif seperti pandemi telah mengubah cara masyarakat Mataram berinteraksi dan memandang kehidupan. Anak-anak tumbuh di era yang berbeda dengan orang tuanya, sementara keluarga dan institusi sosial dituntut untuk terus beradaptasi.
Melalui Teori Ekologi Bronfenbrenner, persoalan sosial di Kota Mataram dapat dipahami secara lebih utuh. Masalah pendidikan, kenakalan remaja, kekerasan dalam rumah tangga, hingga ketimpangan sosial bukanlah persoalan individu semata, melainkan hasil dari interaksi berbagai sistem yang saling mempengaruhi. Pendekatan ini mendorong solusi yang lebih menyeluruh dan berkelanjutan.
Bagi pembangunan kota, teori ini menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak cukup diukur dari fisik dan angka statistik. Kota yang sehat adalah kota yang mampu memperkuat keluarga, memperbaiki kualitas pendidikan, menjaga nilai budaya, serta menghadirkan kebijakan yang berpihak pada manusia. Semua lingkaran kehidupan harus bergerak seimbang.
Pada akhirnya, Teori Ekologi Bronfenbrenner mengajarkan bahwa memahami Kota Mataram berarti memahami warganya beserta lingkungan yang membentuk mereka. Dari rumah hingga kebijakan, dari budaya hingga perubahan zaman, semuanya saling terhubung. Ketika lingkaran-lingkaran ini dirawat bersama, Mataram memiliki peluang besar untuk tumbuh sebagai kota yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.