Mengapa Jamming Tak Selalu Ampuh Saat Berhadapan dengan S-300

Redaksi Opini Mataram

S-300 lahir dari pengalaman panjang Perang Dingin, ketika para perancang militer Uni Soviet sudah membayangkan medan tempur masa depan yang dipenuhi gangguan elektronik. Radar akan dijamming, komunikasi akan dikacaukan, dan udara menjadi arena pertarungan gelombang tak kasatmata. Dari konteks inilah sistem ini dirancang oleh biro Almaz, yang kini berada di bawah payung Almaz-Antey. Filosofinya sederhana namun tajam: radar tidak boleh mudah “dibutakan”, dan gangguan musuh justru bisa dimanfaatkan sebagai petunjuk arah.

Radar S-300 tidak terpaku pada satu frekuensi atau satu pola pancaran. Sistem ini mampu berpindah-pindah mode, mengubah karakter sinyal, dan menyesuaikan cara memindai ruang udara. Bagi pesawat jamming, situasi ini ibarat mengejar bayangan yang terus berubah. Ketika satu radar terganggu, informasi masih dapat mengalir dari radar lain atau pusat komando. Sistem ini memang tidak kebal, tetapi jelas tidak mudah dipatahkan hanya dengan jamming kasar.

Bagian yang paling menarik, sekaligus sering menimbulkan salah paham, adalah kemampuannya menghadapi penjamming secara pasif. Beberapa rudal S-300 memiliki mode home-on-jam, di mana rudal tidak lagi mengandalkan pantulan radar aktif, melainkan mengikuti sumber pancaran gangguan itu sendiri. Dalam kondisi tertentu, semakin kuat jamming yang dipancarkan pesawat lawan, semakin jelas pula posisi yang bisa diikuti rudal. Jamming yang dimaksudkan sebagai pelindung justru berubah menjadi penanda sasaran.

Karena alasan inilah pesawat perang elektronik dalam doktrin modern tidak pernah bekerja sendirian. Mereka harus datang bersama pesawat pengawal, decoy, dan rudal anti-radar untuk menekan sistem pertahanan udara lebih dulu. Tanpa dukungan itu, jamming frontal terhadap sistem seperti S-300 bisa menjadi langkah yang sangat berisiko. Meski demikian, sistem ini tetap memiliki keterbatasan, mulai dari batas horizon radar akibat kelengkungan bumi hingga kerentanan terhadap operasi penindasan pertahanan udara yang terencana dengan baik.

Jika dibayangkan secara hipotetis ditempatkan di Indonesia timur, nilai S-300 lebih masuk akal dibaca sebagai alat perlindungan wilayah udara sendiri. Dengan sistem seperti ini, pesawat asing tidak bisa sembarangan mengaktifkan jamming di sekitar wilayah Indonesia. Gangguan elektronik justru meningkatkan risiko terdeteksi dan diserang. Efek yang dihasilkan bukan ancaman ofensif, melainkan daya gentar defensif—membuat setiap operasi udara di sekitar kawasan tersebut menuntut perhitungan yang jauh lebih matang.

Pelajaran yang ditawarkan S-300 tentang perang udara modern terasa sederhana, tetapi relevan: teknologi bukan semata soal siapa yang paling keras memancarkan sinyal atau paling agresif mengganggu radar lawan. Dalam banyak situasi, justru pihak yang terlalu berisiklah yang paling mudah dikenali.