Ketika Senjata Memilih Diam, Sebuah Pelajaran Militer dari Somalia dan Venezuela


Mataram — Dalam setiap konflik modern, ada satu kekeliruan yang hampir selalu muncul di ruang publik: ketika pertahanan udara tidak bereaksi, senjatanya yang disalahkan. Radar disebut lumpuh, sistem diklaim dijammer, atau operator dianggap tidak siap. Padahal, sejarah militer justru berkali-kali menunjukkan bahwa senjata jarang benar-benar “diam” karena gagal bekerja—mereka diam karena diperintahkan untuk diam.
Perbandingan paling tajam bisa dilihat dari dua konteks yang bertolak belakang: Somalia pada 1993 dan Venezuela dalam peristiwa terkini yang ramai diperdebatkan.
Pada Battle of Mogadishu di Somalia, sebuah wilayah yang nyaris tanpa negara, tanpa angkatan udara, dan tanpa sistem pertahanan modern, milisi lokal berhasil menjatuhkan dua helikopter UH-60 Black Hawk milik Amerika Serikat. Yang digunakan bukan rudal canggih atau MANPADS, melainkan RPG—senjata infanteri murah dan sederhana. Keberhasilan itu bukan soal teknologi, melainkan otonomi tembak di lapangan. Tidak ada rantai komando berlapis, tidak ada pertimbangan eskalasi geopolitik. Melihat sasaran berarti menembak.
Baca liputan lengkap kategori Militer di Opini Mataram.
Kini bandingkan dengan Venezuela. Negara ini bukan aktor non-negara. Ia memiliki pertahanan udara berlapis, mulai dari sistem strategis S-300, sistem menengah Buk-M, hingga sekitar lima ribuan MANPADS Igla. Di atas kertas, ruang udara ibu kota seharusnya menjadi salah satu wilayah paling berbahaya bagi pesawat asing. Namun dalam praktiknya, aset udara lawan bisa masuk dan keluar relatif leluasa. Di titik inilah analisis militer perlu berhenti menyederhanakan masalah sebagai soal “jammer” atau “senjata tidak berfungsi”.

S-300, misalnya, bukan sistem yang mudah dilumpuhkan oleh perang elektronik. Sistem ini dikembangkan oleh industri pertahanan Rusia melalui Almaz-Antey, dengan asumsi bahwa ia akan selalu menghadapi gangguan elektronik berat. Karena itu, S-300 dibekali Electronic Counter-Countermeasures (ECCM), kemampuan berpindah frekuensi, jaringan radar berlapis, serta fitur penting yang sering luput dari perhatian publik: home-on-jammer. Fitur ini memungkinkan sistem pertahanan udara mengunci sumber gangguan elektronik sebagai target. Dalam istilah sederhana, pesawat jammer yang terlalu lama aktif justru berubah menjadi “penunjuk lokasi” bagi rudal lawan. Karena itu, jamming berkepanjangan selama berjam-jam bukan hanya tidak realistis, tetapi juga berbahaya bagi pihak yang menjammer.
Di lapisan menengah, Buk-M—yang juga dikembangkan industri pertahanan Rusia—dirancang untuk bergerak cepat, menutup celah, dan menghadapi target udara taktis seperti pesawat, helikopter, hingga rudal jelajah. Buk-M tidak bergantung pada satu radar tunggal dan memiliki ketahanan terhadap gangguan elektronik. Namun satu hal tetap sama: Buk-M adalah senjata negara, bukan senjata individu. Penggunaannya selalu terikat otorisasi komando.
Sementara itu, MANPADS Igla justru berada di spektrum yang berlawanan. Sistem ini diproduksi untuk pertempuran jarak dekat, di mana keputusan ada di tangan operator. Igla tidak menggunakan radar, melainkan sensor infra-merah dan bidikan optik manual. Operator melihat target, mengunci panas mesin, lalu menembak. Tidak ada frekuensi radar yang bisa dijammer. Karena itu, jika ribuan unit MANPADS tidak digunakan, penjelasan teknis menjadi semakin lemah. Faktor penentunya hampir pasti bukan kemampuan senjata, melainkan izin penggunaannya.
Di sinilah Rules of Engagement (ROE) berperan sebagai kunci. Dalam doktrin militer modern, self-defense tidak bersifat tunggal. Pasukan pengawal darat boleh bertempur ketika diserang langsung. Namun pertahanan udara strategis berada di level berbeda. Menjatuhkan helikopter atau pesawat negara besar bukan lagi keputusan taktis, melainkan keputusan politik-militer. Di sekitar ibu kota dan objek vital negara, otorisasi tembak sering dikunci ketat di tingkat tertinggi. Tanpa perintah eksplisit, operator—seberapa pun siap dan mampu—tidak akan bertindak.
Inilah paradoks yang mempertemukan Somalia dan Venezuela. Somalia, dengan kemiskinan dan keterbatasannya, mampu menjatuhkan helikopter Amerika karena tidak ada yang menahan pelatuk. Venezuela, dengan sistem modern dan ribuan senjata pertahanan udara, justru bisa terlihat pasif karena pelatuknya ditahan oleh keputusan komando.
Pelajaran utamanya sederhana namun sering diabaikan: kapabilitas tidak sama dengan penggunaan. Ketika pertahanan udara tidak menembak, itu bukan selalu tanda kelemahan teknologi. Sering kali, itu adalah hasil dari keputusan manusia di puncak kekuasaan—keputusan untuk menahan eskalasi, meski risikonya mahal di lapangan. Dalam perang modern, bukan spesifikasi senjata yang paling menentukan hasil, melainkan siapa yang memberi izin, kapan izin itu turun, dan kapan izin itu sengaja tidak pernah datang.