Indonesia Ambil Peran Kunci di Gaza, Jadi Wakil Komandan Pasukan Stabilisasi Internasional

Redaksi Opini Mataram
maj gen jasper jeffers 16x9 1

Video pernyataan resmi Al Jazeera English berikut ini menampilkan penjelasan Komandan International Stabilization Force (ISF) terkait rencana pengerahan pasukan internasional ke Gaza, termasuk peran Indonesia sebagai wakil komandan misi.

Sumber: Al Jazeera English, unggahan X @AJEnglish, Februari 2026.

Mataram — Amerika Serikat mengonfirmasi rencana awal pengerahan pasukan “International Stabilization Force” ke wilayah Rafah, Gaza selatan, sebagai bagian dari upaya menstabilkan situasi keamanan pasca-konflik. Mayor Jenderal Angkatan Darat AS, Jasper Jeffers, menyebut Rafah dipilih sebagai titik awal penempatan pasukan karena dinilai krusial secara kemanusiaan dan logistik, mengingat wilayah tersebut menjadi jalur utama keluar-masuk bantuan bagi warga sipil Gaza.

Dalam pernyataannya kepada media internasional, Jeffers mengatakan kekuatan awal pasukan stabilisasi ini akan terus diperluas, dengan target akhir mencapai sekitar 20.000 personel multinasional. Pasukan ini dirancang untuk menjalankan fungsi pengamanan wilayah pasca-gencatan senjata, melindungi distribusi bantuan kemanusiaan, serta mendukung proses awal rekonstruksi di area yang paling terdampak konflik.

Indonesia menjadi salah satu kontributor terbesar dalam misi ini. Pemerintah Indonesia telah menyatakan komitmen mengirimkan sekitar 8.000 personel, sekaligus dipercaya menempati posisi deputy commander atau wakil komandan pasukan stabilisasi internasional tersebut. Al Jazeera melaporkan, peran Indonesia dalam struktur komando menunjukkan meningkatnya bobot diplomasi dan kontribusi Jakarta dalam misi perdamaian internasional, khususnya di isu Palestina yang selama ini mendapat perhatian besar publik Indonesia.

Keterlibatan Indonesia tidak hanya bernilai simbolik, tetapi juga strategis. Sebagai negara dengan pengalaman panjang dalam misi penjaga perdamaian PBB, Indonesia dinilai memiliki kapabilitas operasional dan legitimasi politik di mata banyak negara berkembang. Namun, pengiriman pasukan dalam jumlah besar ke zona konflik aktif tetap mengandung risiko tinggi, baik dari sisi keamanan personel maupun dinamika politik kawasan yang belum sepenuhnya stabil.

Di tingkat global, rencana pembentukan International Stabilization Force ini menuai beragam respons. Sebagian negara melihatnya sebagai langkah realistis untuk mencegah kekosongan keamanan pasca-perang di Gaza, sementara pihak lain mengingatkan bahwa tanpa solusi politik yang jelas antara Israel dan Palestina, kehadiran pasukan internasional berpotensi hanya menjadi “penahan sementara” konflik, bukan penyelesaian jangka panjang.

Catatan Redaksi
Informasi mengenai rencana pengerahan pasukan “International Stabilization Force” ke Rafah dan peran Indonesia sebagai wakil komandan merujuk pada laporan Al Jazeera dan pernyataan Mayor Jenderal AS Jasper Jeffers. Pembaca dapat menelusuri perkembangan terbaru melalui liputan media internasional berikut:
Al Jazeera – Laporan soal International Stabilization Force Gaza: https://www.aljazeera.com