Harga Cabai di Mataram Kian Pedas Jelang Ramadhan, Daya Beli Warga Terpukul


Mataram — Sejak awal Februari, warga Kota Mataram mulai merasakan “pedas” yang berbeda. Bukan hanya di lidah, tapi di dompet. Harga cabai rawit di pasar tradisional merangkak naik tajam dan dalam beberapa hari terakhir menembus kisaran Rp90 ribu hingga Rp110 ribu per kilogram. Angka ini jauh di atas harga normal yang biasanya berada di sekitar Rp30 ribu per kilogram. Di Pasar Mandalika, Dasan Agung, Pagutan, hingga Kebon Roek, keluhan soal harga cabai menjadi percakapan umum di lapak-lapak sayur.
Seperti dilaporkan detik.com, lonjakan harga ini membuat sebagian pembeli mulai mengubah kebiasaan belanja. Jika sebelumnya cabai dibeli dalam jumlah agak banyak untuk stok beberapa hari, kini banyak warga memilih membeli secukupnya. Ada pula yang beralih ke cabai dari luar daerah, seperti cabai asal Bima, yang harganya relatif lebih terjangkau di kisaran Rp50 ribu hingga Rp55 ribu per kilogram. Pergeseran ini perlahan mengubah pola permintaan di pasar, sekaligus menegaskan betapa sensitifnya harga cabai terhadap pengeluaran rumah tangga.
Di balik lonjakan itu, ada rangkaian faktor yang saling terkait. Pasokan dari sentra produksi sedang tidak stabil akibat cuaca yang kurang bersahabat dan gangguan panen di sejumlah daerah penghasil. Pada saat yang sama, permintaan mulai meningkat seiring mendekatnya bulan Ramadhan. Tradisi belanja lebih banyak untuk persiapan sahur dan berbuka ikut menambah tekanan di sisi permintaan. Kombinasi pasokan yang menipis dan kebutuhan yang menguat membuat harga bergerak cepat. Kondisi tersebut juga diamini oleh pemerintah daerah. Menurut laporan ANTARA, Pemprov NTB telah memantau pergerakan harga pangan, termasuk cabai, dan menyiapkan langkah intervensi untuk menjaga stabilitas pasar.
Baca liputan lengkap kategori Mataram di Opini Mataram.
Dampaknya terasa nyata di tingkat rumah tangga. Bagi keluarga dengan anggaran terbatas, kenaikan harga cabai memaksa penyesuaian belanja dapur. Cabai yang biasanya menjadi bumbu utama kini mulai dihemat, bahkan diganti dengan alternatif yang lebih murah. Di sisi pedagang, harga tinggi memang bisa menaikkan omzet per kilogram, tetapi risiko turunnya volume penjualan ikut membayangi karena pembeli menahan konsumsi. Tekanan ini perlahan merembet ke sektor lain, terutama pelaku UMKM kuliner yang sangat bergantung pada cabai untuk menjaga cita rasa masakan mereka.
Gambaran situasi di pasar-pasar tradisional Mataram dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan satu benang merah yang sama bahwa lonjakan harga cabai rawit tidak berdiri sendiri, melainkan memengaruhi banyak pihak sekaligus. Warga sebagai konsumen harus mengencangkan belanja, pedagang menyesuaikan stok di tengah harga yang bergerak cepat, sementara pelaku usaha kuliner ikut menanggung kenaikan biaya bahan baku. Fenomena ini mencuat pada momen sensitif menjelang Ramadhan, ketika kebutuhan dapur rumah tangga biasanya meningkat. Di sisi pasokan, cuaca, kendala panen, serta distribusi antarwilayah yang belum sepenuhnya lancar membuat ketersediaan cabai di pasar kian terbatas. Kombinasi faktor tersebut bukan hanya mengubah pola belanja warga, tetapi juga berpotensi menambah tekanan inflasi daerah jika berlangsung terlalu lama.
Dengan kondisi seperti ini, pertanyaan yang muncul kemudian sederhana namun penting, apakah harga cabai akan terus “pedas” sepanjang Ramadhan, atau masih ada peluang mereda. Pengalaman tahun-tahun sebelumnya menunjukkan harga cenderung bertahan tinggi di awal bulan puasa, ketika permintaan memuncak. Jika pasokan belum membaik, harga berpotensi tetap tinggi bahkan naik tipis. Namun peluang stabilisasi tetap terbuka pada pertengahan hingga akhir Ramadhan, terutama jika distribusi dari luar daerah berjalan lebih lancar dan operasi pasar digelar secara konsisten. Intervensi pasar dan gerakan pangan murah disiapkan untuk menahan laju kenaikan harga agar tidak semakin memberatkan masyarakat.
Stabilitas harga cabai menjadi lebih dari sekadar urusan dapur. Ia menyentuh soal daya beli, ketenangan sosial, dan kepercayaan publik terhadap kemampuan negara menjaga harga pangan. Bagi kota seperti Mataram, Ramadhan seharusnya menjadi bulan yang menenangkan, bukan periode ketika warga harus terus menghitung ulang belanja hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar bumbu masak. Jika pasokan dapat diperkuat dan intervensi pasar dijalankan tepat waktu, harapannya “pedas” harga cabai bisa berangsur reda, memberi ruang bagi warga menjalani Ramadhan dengan lebih tenang.
Catatan Redaksi
Tulisan ini disusun berdasarkan rangkuman dan saduran dari laporan media nasional serta sumber resmi.
www.detik.com/bali/bisnis/d-8349634/harga-cabai-rawit-di-mataram-tembus-rp-110-ribu-jelang-ramadan
www.detik.com/bali/nusra/d-8338673/harga-cabai-di-mataram-kian-pedas-ini-biang-keroknya
https://mataram.antaranews.com/berita/530698/harga-cabai-tembus-rp95-ribu-pemprov-ntb-turun-tangan
Data harga bersifat dinamis dan dapat berubah mengikuti kondisi pasar harian.