Gencatan Senjata di Gaza Terkikis, Serangan Terbaru Tewaskan 24 Warga Sipil

Redaksi Opini Mataram
Gencatan Senjata di Gaza Terkikis, Serangan Terbaru Tewaskan 24 Warga Sipil

Gaza — Rentetan serangan militer kembali menghantam Jalur Gaza, Rabu (4/2/2026), menewaskan sedikitnya 24 warga Palestina. Korban termasuk anak-anak dan bayi, di tengah kesepakatan gencatan senjata yang secara formal masih berlaku namun kian rapuh di lapangan. Otoritas kesehatan setempat menyebut sebagian besar korban merupakan warga sipil, seperti dilaporkan Associated Press (AP).

Di Gaza bagian utara, sebuah bangunan permukiman di kawasan Tuffah dilaporkan terkena serangan dan menewaskan lebih dari sepuluh orang dari satu keluarga. Jenazah para korban dibawa ke Rumah Sakit Shifa di Gaza City. AP melaporkan, di antara korban terdapat bayi berusia beberapa hari serta anak-anak balita, menambah panjang daftar korban sipil dalam eskalasi terbaru.

Pejabat kesehatan setempat mempertanyakan efektivitas gencatan senjata yang diberlakukan sejak Oktober 2025. Direktur RS Shifa, Mohamed Abu Selmiya, dalam pernyataannya yang dikutip AP, menilai kekerasan yang terus terjadi membuat warga Gaza merasa perang belum benar-benar berhenti, meski secara resmi ada kesepakatan penghentian tembakan.

Pihak Israel menyatakan serangan dilakukan sebagai respons atas ancaman langsung terhadap pasukan mereka. Seorang pejabat militer Israel, yang dikutip AP, menyebut serangan dipicu oleh insiden penembakan yang melukai prajurit cadangan Israel. Militer Israel juga mengklaim menargetkan pimpinan kelompok bersenjata yang terlibat dalam serangan ke wilayah Israel pada 2023, serta menyatakan telah menggunakan metode pengawasan dan senjata presisi.

Selain di Gaza City, serangan juga dilaporkan terjadi di Khan Younis dan wilayah pesisir. Menurut keterangan tenaga medis setempat yang dikutip AP, sebuah tenda pengungsi ikut terkena dampak, menyebabkan korban jiwa dan luka-luka, termasuk seorang paramedis yang sedang bertugas. Rumah sakit rujukan mencatat puluhan warga mengalami cedera akibat serangan hari itu.

Secara terpisah, delapan negara Arab dan Muslim, termasuk Mesir dan Qatar, mengecam apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran berulang terhadap gencatan senjata. Pernyataan kecaman itu diberitakan oleh AP dan media internasional lainnya. Di sisi lain, beberapa poin kesepakatan tetap berjalan, seperti pertukaran sandera dan tahanan, serta peningkatan aliran bantuan kemanusiaan ke Gaza.

Kondisi kemanusiaan di perlintasan Rafah juga masih menjadi sorotan. Palang Merah Internasional dan organisasi kemanusiaan menyebut akses keluar-masuk warga, khususnya pasien yang membutuhkan perawatan lanjutan ke Mesir, masih terbatas dan kerap tertunda, sebagaimana dilaporkan AP.

Perang Gaza bermula dari serangan kelompok bersenjata ke wilayah Israel pada Oktober 2023 yang menewaskan lebih dari seribu orang. Sejak konflik itu meletus, puluhan ribu warga Palestina dilaporkan tewas. Data korban yang dikumpulkan Kementerian Kesehatan Gaza selama ini menjadi rujukan utama bagi lembaga-lembaga internasional, termasuk PBB, meski Israel kerap mempersoalkan metodologinya, sebagaimana dicatat AP.

Di tengah diplomasi yang belum menghasilkan terobosan berarti, situasi di lapangan menunjukkan gencatan senjata berjalan tertatih. Bagi warga sipil di Gaza, hari-hari terakhir kembali diwarnai ketidakpastian dan duka, sementara upaya penghentian kekerasan masih diuji oleh realitas konflik.


Catatan sumber

Sumber utama: Associated Press (AP), laporan 5 Februari 2026
Rujukan tambahan: Kementerian Kesehatan Gaza, pernyataan militer Israel (dikutip AP), Palang Merah Internasional