Full Day School di Mataram, Saat Anak Mulai Kehabisan Waktu Menjadi Anak

Redaksi Opini Mataram

Mataram – Wacana full day school kembali terdengar di Mataram. Alasannya nyaris selalu sama: anak dianggap lebih terpantau, lebih “aman”, dan waktunya tidak habis di gawai atau lingkungan yang dinilai berisiko. Di atas kertas, argumen ini terlihat rapi dan meyakinkan. Namun di luar kertas kebijakan, di kehidupan sehari-hari anak-anak, ceritanya belum tentu sesederhana itu.

Ada satu pertanyaan yang jarang benar-benar diajukan dengan jujur: apa kabar anak-anaknya?

Anak bukan orang dewasa versi kecil. Mereka bukan sekadar siswa yang jam belajarnya bisa dipanjangkan lalu diharapkan baik-baik saja. Anak adalah manusia yang sedang tumbuh—emosinya, kepercayaan dirinya, juga rasa amannya. Semua itu tidak dibentuk oleh jadwal panjang dan tuntutan berlapis, melainkan oleh keseimbangan antara sekolah, rumah, dan ruang bermain.

Masalah full day school bukan semata soal pulang sore. Yang lebih terasa adalah perubahan ritme hidup anak. Pagi berangkat, sore baru pulang. Sampai rumah sudah lelah. Waktu bersama orang tua menipis. Waktu bermain hampir habis. Yang tersisa hanya istirahat singkat, lalu esok hari mengulang pola yang sama.

Banyak anak memang terlihat patuh. Tugas selesai. Seragam rapi. Nilai aman. Namun kepatuhan tidak selalu sejalan dengan kesehatan batin. Anak bisa tampak baik-baik saja di permukaan, sambil diam-diam menyimpan kelelahan yang tak pernah sempat ia ceritakan.

Pada usia sekolah dasar, anak seharusnya belajar satu hal penting: merasa mampu dan percaya diri. Rasa itu tumbuh ketika anak diberi ruang untuk berhasil dengan caranya sendiri, bukan ketika setiap hari ia dipaksa mengikuti ritme yang melelahkan. Jika hari-hari anak dipenuhi tuntutan tanpa jeda, yang tertanam bukan ketangguhan, melainkan perasaan bahwa dirinya tak pernah cukup.

Belajar pun bukan soal duduk lebih lama di kelas. Anak belajar dari bergerak, bertanya, bermain, dan mencoba. Duduk lebih lama tidak otomatis membuat anak lebih paham. Justru ketika tubuh dan pikirannya lelah, yang terjadi adalah sebaliknya: anak hadir secara fisik, tetapi pikirannya sudah jauh.

Yang sering luput dari perhatian adalah pentingnya waktu kosong. Waktu tanpa jadwal. Waktu ketika anak bisa bermain di halaman, bercanda dengan teman, atau sekadar diam tanpa tuntutan. Di situlah anak mengolah emosinya. Di situlah ia belajar mengenal dirinya sendiri. Ketika seluruh hari anak diatur, ruang ini perlahan menghilang.

Di Mataram, persoalan ini terasa lebih nyata. Anak-anak tumbuh dalam lingkungan sosial yang sebenarnya kaya: keluarga besar, kegiatan mengaji sore, permainan kampung, dan interaksi antarwarga. Ketika hampir seluruh waktu anak dihabiskan di sekolah, ruang tumbuh yang dulu diisi keluarga dan lingkungan pelan-pelan menyempit.

Dari sudut pandang kebijakan, sistem ini mungkin terlihat efisien. Namun dari sudut pandang anak, ia bisa berubah menjadi beban yang panjang. Anak yang terbiasa lelah sejak kecil berisiko tumbuh menjadi remaja yang mudah cemas, mudah tertekan, atau kehilangan minat. Dampaknya tidak selalu terlihat hari ini, tetapi bisa muncul beberapa tahun ke depan.

Pendidikan seharusnya bukan sekadar soal mengisi waktu anak, melainkan tentang menjaga kewarasan dan kesehatan tumbuh kembangnya. Pertanyaannya bukan hanya bisakah anak sekolah sampai sore, tetapi perlu atau tidak anak kehilangan waktu untuk benar-benar menjadi anak.

Karena pada akhirnya, anak bukan mesin jadwal. Mereka manusia yang butuh ruang untuk belajar, bermain, beristirahat, dan merasa aman. Semoga sekolah-sekolah di Mataram mampu menjadi ruang yang ramah dan manusiawi—ruang yang tidak hanya mengejar prestasi, tetapi juga memberi napas bagi perkembangan emosi dan kepribadian anak.