Dunia Dikritik Diam atas Konflik Timur Tengah, Jeffrey Sachs Soroti “Standar Ganda” Global
"I thought I was not hearing right … even George Orwell could not make this up."
— Johann Spischak (@SDGMasterglass) March 21, 2026
Citing his experience at the United Nations Security Council on the day of America and Israel's unprovoked attack on Iran.
UN advisor & economist Jeffrey Sachs explains why some countries can only pic.twitter.com/f2ghrtftKp
Mataram, NTB – Ketika konflik di Timur Tengah terus memakan korban sipil, kritik tajam justru diarahkan kepada dunia internasional. Ekonom sekaligus penasihat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Jeffrey Sachs, menilai respons global tidak konsisten—bahkan cenderung diam—di tengah eskalasi kekerasan yang kian meluas.
Kritik Terhadap Respons Global
Dalam sebuah forum internasional, Sachs menyoroti minimnya negara yang secara terbuka mengecam tindakan militer yang dikaitkan dengan Israel dan dukungan Amerika Serikat. Ia mempertanyakan mengapa prinsip hukum internasional tidak diterapkan secara setara dalam setiap konflik.
Baca liputan lengkap kategori Internasional di Opini Mataram.
Pernyataan tersebut mencerminkan kegelisahan yang lebih luas: apakah komunitas global masih memiliki standar moral yang sama, atau justru terbelah oleh kepentingan geopolitik.
Korban Sipil dan Krisis Kemanusiaan
Laporan berbagai lembaga internasional menunjukkan situasi kemanusiaan yang memburuk. Data dari United Nations mencatat meningkatnya korban sipil serta kerusakan infrastruktur vital di wilayah konflik.
Sementara itu, Human Rights Watch dan Amnesty International dalam sejumlah laporannya menyoroti dugaan pelanggaran hukum humaniter internasional, termasuk serangan yang berdampak luas terhadap warga sipil.
Meski angka pasti terus berubah dan membutuhkan verifikasi berkelanjutan, tren peningkatan korban menjadi alarm serius bagi komunitas global.
Peran Negara Regional Dipertanyakan
Sorotan tidak hanya tertuju pada kekuatan besar dunia. Negara-negara di kawasan, khususnya di Teluk, juga dinilai belum menunjukkan sikap tegas dalam merespons konflik.
Pengamat menilai, posisi yang cenderung hati-hati ini dipengaruhi oleh kompleksitas hubungan diplomatik, keamanan, dan ekonomi di kawasan. Namun di sisi lain, sikap tersebut memicu kritik terkait minimnya solidaritas regional dalam menghadapi krisis kemanusiaan.
Struktur Kekuasaan dan Isu Kedaulatan
Dalam analisisnya, Jeffrey Sachs juga menyinggung faktor yang lebih struktural dalam politik global. Ia berpendapat bahwa negara-negara yang menjadi tuan rumah pangkalan militer Amerika Serikat kerap tidak sepenuhnya memiliki kebebasan dalam menentukan sikap politik luar negeri.
Pandangan ini menjelaskan mengapa sebagian negara dinilai tidak berani secara terbuka mengutuk tindakan militer Amerika Serikat, termasuk dalam konflik dengan Iran. Ketergantungan pada aspek keamanan dan hubungan strategis disebut menjadi salah satu faktor yang membatasi ruang manuver diplomatik.
Meski demikian, pandangan tersebut merupakan analisis kritis Sachs dan tidak mewakili posisi resmi lembaga internasional.
Standar Ganda dan Krisis Kredibilitas
Isu utama yang mencuat dari kritik Sachs adalah dugaan adanya “standar ganda” dalam sistem internasional. Dalam beberapa konflik, respons global terlihat cepat dan tegas. Namun dalam kasus lain, reaksi yang muncul dinilai jauh lebih lunak.
Fenomena ini berpotensi menggerus kredibilitas institusi global, termasuk dalam penegakan hukum internasional dan perlindungan hak asasi manusia.
Liputan dari organisasi media internasional seperti Reuters dan BBC News juga menunjukkan adanya perdebatan yang semakin intens mengenai konsistensi sikap negara-negara besar dalam konflik global.
Penutup
Ketika konflik terus berlanjut dan korban sipil terus bertambah, pertanyaan mendasar pun mengemuka: apakah dunia internasional masih berdiri di atas prinsip yang sama untuk semua pihak—atau justru telah terjebak dalam realitas politik yang selektif?
Catatan Redaksi
Artikel ini disusun berdasarkan potongan video yang beredar serta pernyataan publik yang dikaitkan dengan Jeffrey Sachs. Beberapa klaim, termasuk jumlah korban dan konteks spesifik pernyataan, memerlukan verifikasi lanjutan melalui sumber resmi. Pernyataan terkait kedaulatan negara dalam konteks pangkalan militer merupakan pandangan analitis yang disampaikan oleh Sachs dalam berbagai forum.