Dividen Itu Membosankan, Capital Gain Itu Menipu?

Redaksi Opini Mataram
ilustrasi deviden vs capital gain ba Ai cblz

Mataram — Berinvestasi saham pada dasarnya adalah pertarungan dua hasrat besar: menunggu dividen atau mengejar capital gain. Dua istilah ini sering terdengar teknis, dingin, dan berjarak dari emosi. Padahal di baliknya, dividen dan capital gain adalah cermin watak investor—apakah ia sabar, rakus, rasional, atau spekulatif. Dividen adalah janji stabilitas, sedangkan capital gain adalah godaan kecepatan. Keduanya sah, keduanya menggoda, dan keduanya bisa menyakitkan bila disalahpahami.

Dividen adalah bagian laba perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham. Ia lahir dari keringat operasional: penjualan yang nyata, laba yang tercatat, dan keputusan manajemen yang berani berbagi. Bagi investor, dividen adalah bukti bahwa perusahaan tidak sekadar tumbuh di atas kertas, tetapi juga menghasilkan uang sungguhan. Setiap rupiah dividen membawa pesan emosional: perusahaan ini bekerja, bisnis ini hidup. Namun di sisi lain, dividen juga sering dianggap membosankan, kecil, dan lambat—tidak cukup “seksi” bagi mereka yang ingin cepat kaya dari layar ponsel.

Capital gain berbeda watak. Ia lahir dari selisih harga beli dan harga jual saham. Tidak peduli perusahaan untung besar atau belum membagi dividen, selama harga naik, investor merasa menang. Inilah arena adrenalin. Capital gain memicu euforia, ketagihan, bahkan ilusi kecerdasan. Banyak orang merasa pintar hanya karena sahamnya naik, padahal sering kali itu lebih karena momentum pasar, rumor, atau sentimen sesaat. Di sinilah capital gain menjadi pedang bermata dua: menguntungkan, tetapi juga kejam. Hari ini naik, besok bisa runtuh tanpa ampun.

Masalah muncul ketika investor—terutama pemula—tidak memahami perbedaan filosofis keduanya. Dividen cocok bagi mereka yang ingin arus kas rutin, perlindungan nilai, dan ketenangan psikologis. Capital gain lebih cocok bagi mereka yang siap dengan risiko tinggi, disiplin membaca pasar, dan tahan secara mental menghadapi fluktuasi. Namun yang sering terjadi justru paradoks: ingin dividen besar tapi panik saat harga turun, atau ingin capital gain cepat tapi tidak siap rugi. Di sinilah pasar saham menghukum ketidakkonsistenan.

Lebih ironis lagi, di era media sosial dan influencer saham, capital gain sering dipuja berlebihan. Dividen dicap “investasi orang tua”, sementara cuan cepat dijual sebagai gaya hidup. Padahal sejarah pasar membuktikan, dalam jangka panjang, dividen berperan besar dalam akumulasi kekayaan. Banyak investor legendaris tidak hidup dari jual beli panik, melainkan dari perusahaan yang setia membagi laba. Capital gain memang bisa melesatkan, tetapi dividenlah yang menopang saat pasar jatuh.

Pada akhirnya, dividen dan capital gain bukan musuh, melainkan dua sisi dari strategi yang matang. Investor cerdas tidak memilih secara membabi buta, melainkan memahami tujuan, profil risiko, dan realitas hidupnya sendiri. Pasar saham bukan tempat berjudi dengan emosi, melainkan ruang belajar tentang kesabaran, disiplin, dan tanggung jawab finansial. Mereka yang hanya mengejar sensasi akan cepat lelah, sementara mereka yang memahami makna dividen dan capital gain akan bertahan—bahkan ketika pasar sedang kejam.