Cara Mengetahui Harga Wajar Saham: Panduan Sederhana PER & PBV untuk Pemula

Redaksi Opini Mataram

Mataram — Bagi investor pemula, dunia saham sering terasa rumit karena dipenuhi istilah dan angka. Padahal, prinsip dasarnya cukup sederhana: membeli saham perusahaan yang sehat di harga yang masuk akal. Untuk itulah pemahaman tentang harga wajar saham menjadi penting, agar keputusan investasi tidak hanya berdasarkan ikut-ikutan atau tren sesaat.

Harga saham yang terlihat di aplikasi investasi adalah harga pasar, yaitu harga yang terbentuk dari aktivitas jual beli setiap hari. Harga ini bisa berubah cepat karena sentimen, berita, atau emosi pasar. Sementara itu, harga wajar saham adalah nilai yang mencerminkan kondisi dan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan, jika dilihat secara lebih tenang dan jangka panjang.

Langkah paling dasar untuk menilai harga wajar saham adalah melihat kinerja laba perusahaan. Perusahaan yang layak dibeli biasanya mampu mencetak keuntungan secara konsisten. Pemula tidak perlu membaca laporan keuangan yang rumit, cukup perhatikan apakah laba perusahaan stabil atau cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Perusahaan yang sering merugi biasanya memiliki risiko lebih besar, meskipun harga sahamnya terlihat murah.

Untuk membantu menilai apakah harga saham sudah terlalu mahal atau masih wajar, investor sering menggunakan rasio keuangan sederhana, salah satunya adalah PER. PER (Price to Earnings Ratio) adalah perbandingan antara harga saham dengan laba per saham perusahaan. Secara mudah, PER menunjukkan berapa tahun keuntungan perusahaan dibutuhkan untuk “menutup” harga saham yang kita beli hari ini.

Bagi pemula, PER juga bisa dibaca dengan panduan sederhana. PER di bawah 10 sering dianggap relatif murah, meskipun tetap perlu dicek apakah perusahaan sedang bermasalah. PER di kisaran 10 hingga 15 umumnya dinilai wajar, terutama jika kinerja perusahaan stabil. Sementara itu, PER di atas 20 biasanya dianggap mahal karena investor membayar lebih dengan harapan pertumbuhan laba yang tinggi di masa depan. Namun, PER tinggi tidak selalu buruk dan PER rendah tidak selalu aman, semuanya tetap bergantung pada kondisi bisnis perusahaan.

Selain PER, ada rasio lain yang juga populer di kalangan investor pemula, yaitu PBV. PBV (Price to Book Value) adalah perbandingan antara harga saham dengan nilai buku perusahaan, yaitu nilai aset bersih setelah dikurangi kewajiban. PBV membantu investor melihat apakah harga saham lebih mahal atau lebih murah dibandingkan “isi” perusahaan tersebut.

Sebagai panduan awal, PBV di bawah 1 sering dianggap murah karena harga saham berada di bawah nilai aset bersih perusahaan. PBV di kisaran 1 hingga 2 umumnya dinilai wajar untuk perusahaan yang stabil. Sementara PBV di atas 3 biasanya dianggap mahal karena pasar memberi valuasi tinggi atas kualitas bisnis, merek, atau prospek pertumbuhan perusahaan. Meski begitu, PBV tetap harus dibaca bersama kondisi usaha dan bukan dijadikan satu-satunya patokan.

Namun bagi pemula, angka bukan segalanya. Logika bisnis tetap menjadi kunci utama. Investor sebaiknya bertanya pada diri sendiri: apakah produk atau jasa perusahaan ini masih dibutuhkan masyarakat? Apakah bisnisnya mudah dipahami dan memiliki pasar yang jelas? Saham dari perusahaan dengan model usaha sederhana dan stabil umumnya lebih aman bagi pemula dibandingkan bisnis yang rumit dan spekulatif.

Kondisi ekonomi juga memengaruhi kewajaran harga saham. Saat pasar sedang lesu atau muncul ketidakpastian ekonomi, banyak saham turun bukan karena perusahaannya buruk, tetapi karena kepanikan investor. Dalam kondisi seperti ini, saham perusahaan yang sehat justru bisa dibeli di harga yang lebih mendekati nilai wajarnya.

Pada akhirnya, memahami harga wajar saham membantu investor pemula untuk lebih tenang dan rasional. Investasi saham bukan soal menebak harga besok naik atau turun, melainkan memilih perusahaan yang layak dan membelinya di harga yang masuk akal. Dengan memahami PER, PBV, dan logika bisnis sederhana, pemula bisa menjadikan investasi saham sebagai proses belajar jangka panjang, bukan sekadar spekulasi.