Bermain Bukan Sekadar Hiburan, Tapi Kebutuhan Biologis Anak

Redaksi Opini Mataram

Mataram – Di banyak sudut Kota Mataram, kita masih bisa melihat pemandangan yang menenangkan: anak-anak berlarian di gang rumah, bermain layangan saat angin sore bertiup, atau sekadar tertawa sambil kejar-kejaran sebelum azan magrib terdengar. Pemandangan sederhana ini sering dianggap biasa. Padahal, di situlah proses penting dalam kehidupan anak sedang berlangsung.

Bermain bukan cuma soal bersenang-senang. Bagi anak, bermain adalah kebutuhan biologis. Sama pentingnya dengan makan tepat waktu atau tidur cukup. Tubuh dan otak anak memang dirancang untuk tumbuh lewat gerak, eksplorasi, dan interaksi langsung dengan lingkungan sekitarnya.

Saat anak memanjat pohon, berlari di lapangan kecil, atau bermain peran bersama teman-temannya, otaknya sedang bekerja keras. Saraf-saraf saling terhubung, kemampuan berpikir berkembang, dan emosi dilatih agar seimbang. Anak belajar mengenal rasa senang, kecewa, marah, dan cara mengelolanya—semua lewat permainan yang terlihat sederhana di mata orang dewasa.

Di Kota Mataram, tantangannya kini mulai terasa. Jadwal sekolah yang padat, les tambahan, hingga kebiasaan bermain smartphone membuat waktu bermain bebas semakin menyempit. Tidak sedikit orang tua yang tanpa sadar menganggap bermain sebagai kegiatan “menghabiskan waktu”, bukan bagian dari proses tumbuh kembang anak.

Padahal, anak yang jarang bermain justru lebih mudah lelah secara emosional. Mereka bisa menjadi cepat bosan, sulit fokus, atau mudah tersinggung. Bukan karena mereka nakal, tetapi karena kebutuhan dasarnya tidak terpenuhi. Tubuh anak membutuhkan gerak, otaknya membutuhkan pengalaman nyata, dan jiwanya membutuhkan kegembiraan yang alami.

Bermain juga merupakan bahasa pertama anak. Sebelum lancar berbicara, anak menyampaikan perasaannya lewat permainan. Anak yang bermain “rumah-rumahan” sedang meniru dunia orang dewasa. Anak yang bermain peran jadi pahlawan sedang belajar tentang keberanian dan keadilan. Semua itu adalah proses belajar yang tidak tertulis di buku pelajaran.

Yang menarik, anak-anak tidak menuntut fasilitas mahal. Mereka tidak selalu butuh mainan modern atau tempat bermain mewah. Lapangan kecil, halaman rumah, gang yang aman, atau halaman masjid yang lengang di sore hari sudah cukup untuk membuat mereka bahagia.

Memberi ruang bermain bukan berarti membiarkan anak tumbuh tanpa arah. Justru sebaliknya, bermain adalah cara paling alami agar anak tumbuh sehat, cerdas, dan kuat secara mental. Di sanalah karakter dibentuk, kepercayaan diri tumbuh, dan hubungan sosial terjalin.

Mungkin sudah saatnya kita, sebagai warga Kota Mataram, mengubah cara pandang. Pertanyaannya bukan lagi seberapa banyak pelajaran yang dikuasai anak hari ini, tetapi apakah mereka sudah cukup bergerak, tertawa, dan bermain. Karena dari permainan sederhana itulah masa depan anak-anak kita sedang disusun, perlahan tapi pasti.

Rujukan & Bacaan Lanjutan

Sejumlah kajian menyebutkan bahwa bermain merupakan bagian penting dari perkembangan biologis anak, bukan sekadar aktivitas pengisi waktu. American Academy of Pediatrics dalam publikasinya menegaskan bahwa bermain membantu pembentukan otak, kesehatan mental, serta kemampuan sosial anak sejak usia dini.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh Stuart Brown, peneliti neurologi dan pendiri National Institute for Play, yang menyebut bahwa bermain berperan langsung dalam membentuk struktur otak dan daya tahan emosional anak sepanjang hidupnya.

Sementara itu, psikolog perkembangan Peter Gray menjelaskan bahwa bermain bebas memberi ruang bagi anak untuk belajar mandiri, mengelola risiko, serta membangun rasa percaya diri—hal yang sulit didapat hanya lewat pembelajaran formal di ruang kelas.

Laporan UNICEF menekankan bahwa anak belajar paling efektif ketika mereka terlibat aktif melalui permainan, terutama dalam konteks sosial dan lingkungan sehari-hari. Bermain menjadi jembatan alami antara rasa ingin tahu anak dan proses belajar yang bermakna.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengingatkan pentingnya aktivitas fisik dan bermain aktif bagi anak untuk menjaga keseimbangan antara kesehatan tubuh, emosi, dan kualitas tidur, khususnya di era meningkatnya penggunaan gawai.


Catatan Redaksi

Tulisan ini diramu dari berbagai kajian psikologi perkembangan anak, laporan lembaga kesehatan dunia, serta pengamatan keseharian di lingkungan perkotaan seperti Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat.