Apa Itu Saham?

Redaksi Opini Mataram
mengenal saham dari nol
photo by gus yoga

Mataram — Bagi pemula, saham sering terlihat seperti dunia yang rumit dan penuh istilah asing. Padahal, konsep saham sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Saham adalah bukti kepemilikan atas sebuah perusahaan. Ketika seseorang membeli saham, ia sejatinya ikut memiliki sebagian kecil dari perusahaan tersebut, lengkap dengan peluang keuntungan dan risiko yang menyertainya.

Agar lebih mudah dipahami, bayangkan perusahaan-perusahaan besar yang produknya kita gunakan setiap hari. Bank tempat kita menabung, operator seluler yang menyediakan internet, atau perusahaan makanan dan minuman yang produknya ada di warung—banyak di antaranya adalah perusahaan terbuka yang sahamnya bisa dibeli oleh masyarakat di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Contohnya adalah saham perbankan seperti BBCA (Bank Central Asia) atau BBRI (Bank Rakyat Indonesia). Ketika membeli saham BBCA, investor berarti ikut memiliki sebagian kecil dari salah satu bank swasta terbesar di Indonesia. Jika kinerja bank tersebut tumbuh, laba meningkat, dan manajemen dikelola dengan baik, harga sahamnya cenderung ikut naik dan berpotensi membagikan dividen secara rutin.

Keuntungan dari saham umumnya berasal dari dua sumber. Pertama adalah capital gain, yaitu selisih antara harga beli dan harga jual saham. Misalnya, saham BBRI dibeli di harga tertentu dan beberapa tahun kemudian harganya naik seiring pertumbuhan bisnis UMKM yang dibiayainya. Kedua adalah dividen, yaitu pembagian laba perusahaan kepada pemegang saham. Banyak saham besar di Indonesia dikenal rajin membagikan dividen, sehingga cocok untuk investor pemula yang mengincar pendapatan berkala.

Namun, tidak semua saham bergerak dengan pola yang sama. Saham sektor komoditas seperti ANTM (Aneka Tambang) atau PTBA (Bukit Asam) sangat dipengaruhi oleh harga global emas, nikel, atau batu bara. Ketika harga komoditas dunia naik, saham-saham ini bisa melonjak tajam. Sebaliknya, saat harga turun, kinerjanya bisa ikut tertekan. Di sinilah pemula belajar bahwa saham selalu berkaitan erat dengan kondisi ekonomi yang lebih luas.

Ada pula saham sektor konsumer seperti ICBP (Indofood CBP) atau UNVR (Unilever Indonesia) yang produknya digunakan setiap hari. Saham-saham ini cenderung lebih stabil karena permintaannya relatif konsisten. Banyak investor pemula memilih saham jenis ini karena dianggap lebih mudah dipahami: selama masyarakat tetap makan dan menggunakan produk rumah tangga, bisnisnya akan terus berjalan.

Di sisi lain, pasar saham Indonesia juga mengenal saham-saham yang pergerakannya sangat agresif, sering disebut saham spekulatif atau saham gorengan. Saham jenis ini bisa naik cepat tanpa didukung kinerja keuangan yang kuat. Banyak pemula tergoda karena melihat harga melonjak dalam waktu singkat, tanpa menyadari risikonya jauh lebih besar. Contoh ini menjadi pelajaran penting bahwa tidak semua saham cocok untuk pemula.

Untuk bisa membeli saham-saham tersebut, investor perlu membuka rekening efek melalui perusahaan sekuritas. Setelah itu, saham dapat dibeli dalam satuan lot, di mana satu lot setara dengan 100 lembar saham. Sistem ini membuat investasi saham semakin terjangkau, bahkan bagi pemula dengan modal terbatas.

Kesalahan umum pemula adalah membeli saham hanya karena ikut-ikutan tren atau rekomendasi media sosial. Padahal, membeli saham BBCA tentu berbeda risikonya dengan membeli saham perusahaan kecil yang baru melantai di bursa. Pemula sebaiknya memulai dari saham-saham besar yang bisnisnya jelas, laporan keuangannya transparan, dan sudah teruji dalam berbagai kondisi ekonomi.

Pemula juga perlu menentukan tujuan sejak awal. Jika tujuan investasi adalah jangka panjang, saham perbankan besar atau konsumer bisa menjadi pilihan awal. Jika tujuan jangka pendek, risikonya perlu benar-benar dipahami. Tanpa tujuan yang jelas, investor mudah panik saat harga saham turun, lalu menjual di waktu yang kurang tepat.

Pada akhirnya, saham adalah sarana untuk belajar memahami bisnis Indonesia secara lebih luas. Dari bank, tambang, makanan, hingga telekomunikasi, pasar saham mempertemukan investor dengan denyut ekonomi nasional. Bagi pemula, kunci utama bukan seberapa cepat membeli saham, tetapi seberapa baik memahami perusahaan yang dibeli. Dengan pengetahuan dan kesabaran, saham dapat menjadi alat membangun nilai secara bertahap, bukan sekadar ajang spekulasi.