Ketika Rasa Sepi Menemukan Lawan Bicara di Dunia Digital


Mataram tidak pernah benar benar tidur. Kota ini hidup oleh aktivitas mahasiswa, pekerja sektor pariwisata, pedagang kecil, hingga anak muda yang merantau dari desa desa di Lombok Tengah, Lombok Timur, dan Lombok Utara. Namun di balik hiruk pikuk itu, ada banyak cerita yang tidak punya ruang untuk ditumpahkan. Rindu kampung halaman, tekanan biaya hidup, cemas mencari kerja, hingga patah hati yang terasa sepele tapi menguras energi.
Dalam situasi seperti itu, ponsel menjadi teman paling setia. Aplikasi percakapan tidak lagi hanya untuk mengirim pesan ke manusia. Nama nama seperti ChatGPT, Replika, Meta AI, Character AI, dan Wysa mulai dikenal sebagai tempat bercerita. Sebagian menggunakannya untuk sekadar meluapkan unek unek, sebagian lagi untuk menenangkan diri saat pikiran terasa penuh. Tidak perlu janji bertemu. Tidak perlu menjelaskan latar belakang. Tinggal mengetik, lalu menunggu jawaban yang terasa hangat.
Bagi banyak anak muda di Mataram, berbicara dengan AI terasa lebih ringan dibanding curhat ke orang terdekat. Bukan karena teman dan keluarga tidak peduli, tetapi karena ada rasa sungkan. Takut dianggap lemah. Takut dibilang kurang bersyukur. Budaya kita masih sering menuntut orang terlihat kuat. Maka layar menjadi ruang aman yang sunyi namun tidak menghakimi.
Baca liputan lengkap kategori Techno di Opini Mataram.
Fenomena ini juga berkaitan dengan terbatasnya akses layanan kesehatan mental di daerah. Psikolog dan konselor profesional jumlahnya belum sebanding dengan kebutuhan. Biaya konsultasi masih terasa mahal bagi sebagian warga. Di sekolah dan kampus, ruang bimbingan konseling sering kali belum menjadi tempat yang benar benar nyaman untuk bercerita. Dalam celah itulah teknologi masuk, menawarkan percakapan instan yang terasa personal.
AI memang tidak memahami konteks lokal sepenuhnya. Ia tidak tahu rasanya macet di Jalan Pejanggik saat hujan deras. Ia tidak merasakan beban ekonomi keluarga nelayan di pesisir Ampenan. Tetapi responsnya yang tenang, terstruktur, dan empatik cukup membantu banyak orang merapikan pikirannya. Ada yang mengaku lebih lega setelah menuliskan keresahan kepada AI, lalu perlahan berani berbagi pada orang terdekat.
Namun, di balik kemudahan itu, ada pesan sosial yang perlu kita dengar. Jika semakin banyak warga muda Mataram memilih curhat ke mesin, itu menandakan ruang aman antarmanusia belum sepenuhnya tersedia. Kota ini mungkin ramah secara fisik, tetapi belum tentu ramah secara emosional. Kita jarang diajari cara mendengar tanpa menghakimi. Jarang dilatih untuk menemani tanpa menggurui.
AI sebagai teman curhat tidak perlu dipandang sebagai ancaman. Ia bisa menjadi jembatan sementara, tempat seseorang menenangkan diri sebelum melangkah. Yang perlu dijaga adalah agar teknologi tidak menjadi satu satunya sandaran. Keluarga, sekolah, komunitas, hingga ruang publik di Mataram perlu kembali menjadi tempat yang aman untuk bercerita. Tempat di mana lelah tidak langsung dibalas nasihat. Tempat di mana rapuh tidak langsung dianggap lemah.
Tren ini mengingatkan kita bahwa kebutuhan paling dasar manusia bukan hanya pekerjaan dan penghasilan, tetapi juga didengar. Di kota yang terus tumbuh seperti Mataram, membangun empati antarsesama mungkin sama pentingnya dengan membangun jalan dan gedung. Teknologi boleh menemani, tetapi manusia tetap harus saling hadir.