Mengapa Pengusaha Teknologi Strategis Masih Langka di Indonesia?


Mataram – Ketika dunia memuja figur seperti Elon Musk karena keberaniannya menantang industri lama lewat roket guna ulang, mobil listrik, dan energi terbarukan, Indonesia justru dihadapkan pada cermin yang jujur. Di mana para pengusaha teknologi strategis kita, dan mengapa sektor energi, manufaktur teknologi, serta deep tech masih jarang disentuh secara serius?
Jawaban yang kerap muncul adalah membandingkan individu, seolah Indonesia tidak memiliki figur sekelas Elon Musk. Cara pandang ini kurang tepat. Persoalannya bukan pada ketiadaan sosok luar biasa, melainkan pada ekosistem yang belum memberi ruang bagi ide berisiko tinggi untuk tumbuh. Keberanian personal saja tidak cukup bila tidak ditopang pembiayaan jangka panjang, pasar awal, serta toleransi terhadap kegagalan.
Di Amerika Serikat, teknologi strategis tumbuh karena negara berani menjadi pembeli awal. Program antariksa memberi kontrak jangka panjang yang memungkinkan perusahaan swasta bereksperimen dan belajar dari kegagalan. Pasar modal bersedia menunggu kerugian bertahun tahun demi peluang terobosan. Kegagalan tidak otomatis mengakhiri karier, tetapi dipahami sebagai bagian dari proses inovasi. Kombinasi inilah yang membuka ruang bagi teknologi strategis untuk berkembang.
Baca liputan lengkap kategori Nasional di Opini Mataram.
Kondisi Indonesia berbeda. Struktur ekonomi kita masih didominasi sektor yang cepat menghasilkan seperti perdagangan, komoditas, properti, dan jasa konsumsi. Model ini penting bagi pertumbuhan, tetapi kurang mendorong lahirnya mesin teknologi sendiri. Kita mengekspor nikel, hasil laut, dan produk pertanian, namun teknologi pengolahan, desain mesin, hingga kepemilikan paten sebagian besar berada di tangan pihak luar. Nilai tambah tertinggi kerap bocor keluar negeri. Ketika proyek strategis lebih memilih solusi impor yang sudah matang, inovasi lokal kehilangan pasar pertama yang krusial.
Masalah pendanaan mempertegas jurang tersebut. Investor di dalam negeri umumnya mengharapkan pengembalian cepat, sementara teknologi strategis menuntut riset panjang dan biaya besar. Energi terbarukan, material maju, atau teknologi manufaktur tidak cocok dinilai dengan logika cepat untung. Tanpa kesabaran modal, perusahaan rintisan berbasis deep tech sulit bertahan hingga mencapai skala yang layak. Dalam situasi ini, wajar bila pengusaha memilih sektor aman ketimbang membangun fondasi teknologi yang berdampak jangka panjang.
Budaya anti gagal turut membatasi keberanian. Pengembangan teknologi hampir selalu melalui kegagalan berulang. Namun, di banyak lingkungan bisnis, kegagalan masih dipersepsikan sebagai akhir reputasi. Risiko sosial yang tinggi membuat pengusaha enggan mencoba sektor berat. Tanpa ruang untuk gagal dan bangkit, keberanian inovasi akan terus terbatas.
Keterputusan antara kampus dan industri juga menjadi hambatan. Riset lahir di perguruan tinggi, tetapi jarang menjelma menjadi produk industri. Pengetahuan berhenti di jurnal dan tidak menjadi mesin ekonomi. Padahal, aliran pengetahuan dari laboratorium ke industri dan didukung kebijakan publik adalah jantung pengembangan teknologi strategis. Tanpa jembatan yang kuat, potensi inovasi lokal sulit naik kelas.
Pelajaran yang relevan bagi Indonesia justru terletak pada medan yang berbeda. Teknologi strategis kita bukan perlombaan teknologi luar angkasa, melainkan persoalan pangan, air, energi, kebencanaan, dan logistik antarpulau. Di daerah, tantangannya nyata. Irigasi presisi untuk petani, pengolahan hasil perikanan bernilai tambah, microgrid energi surya untuk desa, serta sistem peringatan dini bencana berbiaya terjangkau adalah contoh medan strategis yang riil. Menguasai teknologi di sektor ini berarti memperkuat kedaulatan ekonomi sekaligus ketahanan sosial.
Indonesia tidak perlu mencetak Elon Musk versi lokal. Yang dibutuhkan adalah perubahan arah kebijakan dan mentalitas. Negara perlu berani menjadi pembeli awal teknologi lokal. Skema pembiayaan jangka panjang harus memberi ruang bagi inovasi berisiko. Budaya publik perlu menganggap kegagalan sebagai proses belajar, bukan aib. Tanpa tiga prasyarat ini, figur sehebat apa pun akan kesulitan tumbuh.
Elon Musk adalah cermin, bukan standar tunggal. Ia menunjukkan bahwa teknologi strategis lahir dari keberanian individu yang ditopang ekosistem yang tepat. Jika Indonesia ingin berhenti menjadi pasar teknologi dan mulai menjadi produsen, pekerjaan rumahnya jelas. Membangun ekosistem yang memungkinkan pengusaha bekerja lama, senyap, dan konsisten membangun teknologi untuk kepentingan nasional.