Pemilahan Sampah Rumah Tangga dan Program Tempah Dedoro, Strategi Kota Mataram Tekan Timbunan Sampah


MATARAM — Upaya pengelolaan sampah di Kota Mataram kini tidak lagi bertumpu pada pengangkutan dan pembuangan ke tempat pembuangan akhir (TPA). Pemerintah kota mulai mendorong penyelesaian sampah dari sumbernya, yakni rumah tangga, melalui pemilahan sampah dan penguatan program pengolahan organik Tempah Dedoro.
Pemilahan sampah dari rumah tangga menjadi kunci utama perubahan ini. Warga didorong memisahkan sampah organik seperti sisa makanan, sayur, dan buah dari sampah anorganik seperti plastik dan kertas. Kebijakan tersebut tidak lagi sekadar imbauan. Seperti yang disampaikan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram menegaskan bahwa sampah yang tidak dipilah berpotensi tidak diangkut oleh petugas kebersihan.
Langkah tegas ini diambil karena sebagian besar sampah kota berasal dari rumah tangga, dengan komposisi dominan sampah organik. Jika tidak dipilah sejak awal, sampah-sampah tersebut akan langsung menambah beban TPA. Di sisi lain, sampah organik sebenarnya masih bisa diolah dan dimanfaatkan kembali.
Baca liputan lengkap kategori Mataram di Opini Mataram.
Untuk menjawab persoalan tersebut, Pemkot Mataram menjalankan program Tempah Dedoro. Program ini merupakan sistem pengolahan sampah organik berbasis lingkungan. Tempah Dedoro berbentuk lubang atau tabung—umumnya dari buis beton—yang ditanam di tanah dan digunakan untuk menampung sampah organik agar terurai secara alami menjadi kompos.
Penerapan Tempah Dedoro banyak dilakukan di pasar tradisional dan lingkungan padat penduduk. Sampah organik yang sebelumnya diangkut ke TPA kini bisa diolah langsung di lokasi. Cara ini mampu mengurangi penumpukan sampah pasar sekaligus menekan bau dan pencemaran lingkungan.
Dampak program ini mulai terlihat di tingkat lingkungan. Dalam rilis resmi yang dimuat di laman Pemerintah Kota Mataram, disebutkan bahwa di beberapa wilayah percontohan, volume sampah yang dikirim ke TPA berkurang hingga sekitar 50 persen. Pengurangan ini terutama berasal dari sampah organik yang diolah melalui Tempah Dedoro.
Program ini juga berkaitan erat dengan persoalan daya tampung TPA Kebon Kongok yang memberlakukan pembatasan ritase pengangkutan sampah ke TPA . Hal ini mendorong pemerintah Kota Mataram mencari alternatif pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan. Tempah Dedoro kemudian diposisikan sebagai salah satu solusi untuk menekan laju sampah organik, yang selama ini menjadi penyumbang terbesar timbulan sampah kota.
Meski demikian, keberhasilan Tempah Dedoro sangat bergantung pada peran aktif masyarakat. Tanpa pemilahan sampah dari rumah tangga, sistem ini tidak akan berjalan optimal. Sampah organik yang tercampur plastik dapat menghambat proses penguraian. Karena itu, edukasi dan sosialisasi terus dilakukan. Pemerintah Kota Mataram melibatkan RT, PKK, dan komunitas lingkungan untuk membiasakan warga memilah sampah sejak dari rumah.
Tantangan masih ada. Tidak semua lingkungan memiliki Tempah Dedoro, dan perubahan perilaku warga membutuhkan waktu. Namun, arah kebijakan sudah jelas. Sampah tidak lagi dipandang semata sebagai beban, melainkan sebagai sumber daya yang bisa dikelola dan dimanfaatkan.
Intinya, pengelolaan sampah tidak selalu memerlukan teknologi mahal. Dengan pemilahan di tingkat rumah tangga, fasilitas sederhana di lingkungan, serta kebijakan yang konsisten, timbulan sampah kota dapat ditekan secara signifikan. Dari dapur rumah hingga lingkungan kota, perubahan besar dimulai dari kebiasaan kecil: memilah sampah sebelum dibuang.