Indonesia Terlalu Lama Bertahan, Sudah Saatnya Berhenti Takut dan Mulai Bertumbuh


Mataram – Di tengah perdebatan global soal nilai tukar, muncul paradoks yang sering membingungkan publik. Donald Trump, tokoh politik Amerika Serikat, secara terbuka menginginkan dolar AS melemah demi menghidupkan industri dan ekspor negaranya. Namun di Indonesia, banyak ekonom, profesor, hingga influencer justru kompak mendorong rupiah agar terus menguat. Sekilas terdengar janggal: mengapa negara besar ingin mata uangnya melemah, sementara negara berkembang seperti Indonesia begitu takut terhadap pelemahan kurs?
Jawabannya bukan soal benar atau salah, melainkan soal posisi dan strategi.
Amerika Serikat adalah penerbit mata uang cadangan dunia. Utangnya dalam dolar, perdagangannya didominasi dolar, dan krisis global justru sering membuat dolar semakin dicari. Dalam posisi seperti itu, pelemahan dolar adalah alat kebijakan, bukan ancaman. Dolar yang lebih lemah membuat ekspor AS lebih kompetitif dan industri domestik kembali bernapas.
Baca liputan lengkap kategori Ekonomi di Opini Mataram.
Indonesia berada di sisi sebaliknya. Rupiah yang melemah cepat terasa dampaknya di dapur rakyat: harga pangan impor naik, BBM tertekan, obat-obatan mahal, dan cicilan utang luar negeri membengkak. Maka wajar jika kebijakan ekonomi Indonesia selama ini bersifat defensif yaitu dengan menjaga rupiah, menenangkan pasar, dan menghindari gejolak.
Masalahnya, bertahan terlalu lama membuat kita lupa bagaimana caranya maju.
Selama bertahun-tahun, stabilitas menjadi tujuan utama. Inflasi dijaga, kurs diawasi, kepercayaan investor dipelihara. Semua itu penting, tetapi stabilitas tanpa keberanian industrialisasi hanya menghasilkan ekonomi yang aman, bukan ekonomi yang kuat. Kita tidak runtuh, tapi juga tidak melompat.
Di saat yang sama, dunia sedang berubah. Banyak negara mulai mengurangi ketergantungan pada dolar, bukan karena ingin menjatuhkannya, tetapi karena ingin lebih berdaulat dalam perdagangan. Transaksi bilateral dengan mata uang lokal, skema pembiayaan alternatif, hingga regionalisasi ekonomi menjadi tren baru. Dalam konteks ini, dedolarisasi bukan ancaman bagi Indonesia. Ia justru menjadi peluang, dengan satu syarat utama, Indonesia harus memiliki produk.
Di sinilah akar persoalan kita. Selama ini, kebijakan moneter terlalu sering ditempatkan sebagai panglima, sementara kebijakan industri berjalan tertatih. Rupiah dijaga agar kuat, tetapi industri lokal tidak cukup dilindungi. UMKM didorong tumbuh, namun dilepas begitu saja ke pasar bebas yang dipenuhi produk impor murah. Kita berharap UMKM naik kelas, tapi jalannya berliku: perizinan rumit, pembiayaan mahal, dan akses pasar terbatas.
Padahal, jalur pertumbuhan yang paling sehat justru jelas di depan mata: UMKM naik menjadi perusahaan formal, masuk rantai pasok industri, lalu menembus pasar ekspor. Ketika itu terjadi, devisa masuk secara alami, ketergantungan pada dolar berkurang, dan rupiah menguat bukan karena dipaksa, tetapi karena ditopang ekonomi riil.
Ironisnya, narasi publik sering disederhanakan: rupiah kuat dianggap selalu baik, rupiah melemah selalu buruk. Kenyataannya lebih kompleks. Rupiah yang terlalu kuat juga bisa mematikan daya saing industri lokal dan membanjiri pasar dengan impor. Negara-negara industri besar memahami ini. Mereka tidak mengejar mata uang superkuat, melainkan mata uang yang stabil dan dikelola untuk mendukung produksi.
Indonesia seharusnya belajar dari sana. Bukan dengan meniru Amerika atau China secara mentah, tetapi dengan memahami posisi sendiri. Kita tidak perlu “melawan dolar”, tetapi juga tidak boleh terus hidup dalam bayang-bayangnya. Kuncinya bukan pada kurs, melainkan pada apa yang kita produksi dan jual ke dunia.
Jika Indonesia terus bermain aman dan bertahan, pertumbuhan akan selalu terasa sempit dan rapuh. Namun jika keberanian industrialisasi dikedepankan dengan melindungi sektor produktif, menaikkan UMKM menjadi industri menengah, serta menjadikan ekspor bernilai tambah sebagai prioritas, stabilitas justru akan mengikuti dengan sendirinya.
Kekuatan mata uang sebenarnya bukanlah tujuan akhir. Ia hanyalah cermin dari kekuatan ekonomi di belakangnya. Selama fondasi produksi kita rapuh, rupiah akan selalu menjadi sumber kecemasan. Tetapi ketika Indonesia benar-benar menjadi negara pembuat barang, bukan sekadar pasar, maka kurs bukan lagi momok tapi melainkan konsekuensi alamiah dari pertumbuhan.