Botol Air Mineral Bekas Jadi Irigasi Tetes, Cara Warga Mataram Hemat Air dan Kurangi Sampah

Redaksi Opini Mataram

Mataram – Bagi banyak warga Kota Mataram, menanam sayur di pekarangan rumah bukan sekadar hobi, tetapi juga cara sederhana menjaga dapur tetap terisi di tengah cuaca yang makin sulit diprediksi. Saat kemarau, air terasa terbatas. Sementara di musim hujan, air datang melimpah namun sering terbuang percuma. Dalam kondisi seperti ini, irigasi tetes gravitasi dari botol air mineral menjadi solusi praktis yang mudah diterapkan di lingkungan rumah.

Irigasi tetes gravitasi bekerja dengan prinsip sederhana: air mengalir pelan karena gaya gravitasi. Air tidak disiram sekaligus, melainkan diteteskan sedikit demi sedikit langsung ke area akar tanaman. Cara ini sangat cocok dengan kondisi tanah di Mataram yang cenderung cepat kering dan terpapar panas matahari hampir sepanjang tahun.

Menariknya, sistem ini sekaligus membuka peluang pemanfaatan limbah botol air mineral yang sehari-hari banyak digunakan warga. Botol plastik yang biasanya langsung dibuang bisa diubah menjadi alat irigasi sederhana. Selain menghemat biaya, cara ini membantu mengurangi timbunan sampah plastik di lingkungan rumah dan pekarangan, terutama di kawasan padat penduduk.

Untuk membuatnya, alat dan bahan yang dibutuhkan sangat mudah ditemukan. Warga cukup menyiapkan botol air mineral bekas ukuran 600 mililiter hingga 1,5 liter, air bersih, paku kecil atau jarum, serta korek api atau sumber panas untuk melubangi tutup botol. Tidak diperlukan peralatan khusus atau biaya tambahan.

Langkah pembuatannya pun cukup sederhana. Botol air mineral terlebih dahulu dibersihkan agar tidak ada sisa minuman di dalamnya. Setelah itu, tutup botol dilubangi satu atau dua titik kecil menggunakan jarum atau paku yang dipanaskan. Lubang sebaiknya kecil agar air menetes perlahan dan tidak langsung habis.

Botol kemudian diisi air bersih dan ditutup kembali. Setelah itu, botol dibalik dan ditanam sebagian ke tanah di dekat akar tanaman, sekitar 5 hingga 10 sentimeter agar posisinya stabil. Untuk tanaman pot atau polybag, botol cukup diletakkan di samping tanaman tanpa perlu ditanam terlalu dalam. Jika air menetes terlalu cepat, ukuran lubang bisa diperkecil; jika tersumbat, lubang cukup dibersihkan.

Sistem irigasi tetes dari botol air mineral ini cocok untuk berbagai tanaman yang umum ditanam warga Mataram, seperti cabai, tomat, terong, sawi, kangkung, hingga tanaman bumbu dapur. Satu botol air bisa menetes selama beberapa jam hingga seharian penuh, tergantung ukuran lubang dan kondisi tanah.

Selain hemat air, cara ini juga membuat tanaman tumbuh lebih stabil. Tanah tidak becek, akar tidak mudah busuk, dan tanaman tidak mengalami stres karena kelebihan air. Bagi warga yang memiliki aktivitas padat, metode ini juga menghemat waktu karena tidak perlu menyiram tanaman berulang kali.

Di tengah tantangan ketersediaan air dan persoalan sampah plastik di Kota Mataram, irigasi tetes gravitasi dari botol air mineral menunjukkan bahwa solusi bisa dimulai dari hal-hal kecil di rumah. Limbah plastik tidak selalu harus berakhir di tempat sampah. Dengan sedikit kreativitas, botol bekas bisa diubah menjadi alat yang bermanfaat, membantu tanaman tumbuh, menghemat air, sekaligus menjaga lingkungan tetap lebih bersih dan berkelanjutan.