Ketika Tabungan Negara Bisa Dikunci, dan Utang Justru Bisa Dinegosiasi


Mataram – Belakangan ini, di warung kopi sekitar Mataram, topik obrolan tak melulu soal cuaca, harga cabai, atau hasil pertandingan bola. Ada satu tema yang pelan-pelan ikut nyempil di meja kopi dan linimasa media sosial: utang negara dan tabungan negara. Ada yang nyeletuk, “Kenapa negara masih nabung di luar, padahal bisa dikunci?” Ada juga yang menimpali sambil tertawa, “Utang mah tinggal nego.”
Obrolan itu terdengar ringan, tapi sebenarnya menyentuh isu besar. Selama bertahun-tahun, negara-negara di dunia diajarkan satu prinsip yang sama: simpan cadangan devisa di luar negeri agar aman. Emas dititipkan di London, dolar disimpan di pusat keuangan Barat, dan surat utang negara maju dijadikan pegangan. Pola ini lama dianggap wajar dan rasional.
Namun dunia berubah. Apa yang dulu terasa aman, kini mulai dipertanyakan. Bukan karena uangnya hilang, tapi karena politik makin sering ikut campur ke urusan keuangan.
Baca liputan lengkap kategori Ekonomi di Opini Mataram.
Kasus Rusia sering jadi contoh yang dibagikan di media sosial. Setelah perang di Ukraina, Uni Eropa membekukan ratusan miliar euro aset bank sentral Rusia yang tersimpan di luar negeri. Dana itu banyak disimpan di Belgia, lewat lembaga kliring bernama Euroclear. Awalnya disebut hanya dibekukan sementara. Tapi kemudian muncul kebijakan lanjutan: bunga dari aset yang dibekukan dipakai untuk membantu Ukraina.
Di sinilah obrolan warung kopi mulai berubah nada. “Lah, kalau begitu aman di mana?” tanya seseorang. Aset negara yang seharusnya netral ternyata bukan cuma bisa ditahan, tapi juga dimanfaatkan. Bagi banyak negara, ini bukan sekadar sanksi, tapi peringatan.
Cerita Venezuela juga sering muncul sebagai bahan diskusi. Emas negara itu yang disimpan di Bank of England tak bisa diambil karena sengketa pengakuan pemerintahan. Secara hukum, emas itu tetap milik Venezuela. Tapi dalam praktik, emas tersebut tak bisa dipakai untuk membantu ekonomi rakyatnya. Aman di atas kertas, tapi tak bisa disentuh saat dibutuhkan.
Iran bahkan lebih dulu merasakan hal serupa. Bertahun-tahun aset dan cadangan devisanya dibekukan akibat sanksi. Sebagian akhirnya bisa dicairkan lewat negosiasi panjang. Menariknya, utang Iran tidak pernah “dikunci” seperti tabungannya. Utang tetap dibicarakan, dinegosiasikan, dan diatur ulang.
Dari situlah muncul satu kesimpulan sederhana yang kini sering terdengar, baik di kolom komentar maupun di meja kopi:
Utang bisa dinegosiasi.
Tabungan luar negeri bisa “dikunci”.
Utang, sebesar apa pun, hampir selalu membuka ruang kompromi. Bisa direstrukturisasi, ditunda pembayarannya, bahkan dikurangi nilainya. Kreditur paham, negara yang benar-benar ambruk justru akan membawa masalah baru. Karena itu, sistem utang internasional memang dirancang untuk mencari jalan tengah.
Sebaliknya, tabungan negara yang disimpan di luar negeri sangat bergantung pada suasana politik. Hubungan memburuk, akses bisa ditutup. Kepentingan berubah, aturan pun ikut berubah. Dalam kondisi seperti ini, tabungan negara tak lagi sekadar alat ekonomi, tapi bisa berubah menjadi alat tekanan.
Bukan berarti menabung cadangan devisa itu keliru. Negara tetap membutuhkan cadangan untuk menjaga nilai tukar, membayar impor, dan menghadapi krisis mendadak. Namun pengalaman Rusia, Iran, dan Venezuela membuat banyak negara mulai berpikir ulang: jangan semua uang ditaruh di satu tempat, apalagi di satu sistem.
Tak heran jika belakangan ini banyak negara memilih memulangkan emasnya, menyebar cadangan ke berbagai mata uang, atau mencari tempat penyimpanan yang dianggap lebih netral. Dunia sedang bergerak ke fase baru, di mana kepercayaan tidak lagi mutlak, tapi penuh syarat.
Bagi warga Mataram, perdebatan ini mungkin terasa jauh. Tapi intinya sederhana dan relevan: di dunia yang makin keras, fleksibilitas sering kali lebih berharga daripada rasa aman semu. Dan wajar jika obrolan soal utang dan tabungan negara kini tak lagi terdengar asing, bahkan di warung kopi sekalipun.