Benarkah Indonesia Negara Kaya Sumber Daya Alam?

Redaksi Opini Mataram

Mataram – Di Mataram, obrolan soal ekonomi sering berakhir pada satu kesimpulan yang terdengar masuk akal: Indonesia itu sebenarnya negara kaya. Tanahnya subur, lautnya luas, tambangnya banyak. Kalau rakyat belum sejahtera, berarti ada yang salah dalam pengelolaannya. Kalimat seperti ini mudah diterima karena terasa logis dan sudah lama beredar dari mulut ke mulut.

Masalahnya, ketika data ekonomi dibuka, gambarnya tidak sesederhana itu. Indonesia memang memiliki sumber daya alam yang beragam. Namun dalam struktur ekonomi nasional tahun 2025, sektor sumber daya alam—terutama pertambangan dan minyak-gas—hanya menyumbang sekitar 8 hingga 9 persen dari Produk Domestik Bruto. Artinya, dari seluruh nilai ekonomi yang dihasilkan Indonesia dalam setahun, lebih dari 90 persennya datang dari sektor lain seperti perdagangan, jasa, industri pengolahan, serta konsumsi masyarakat.

Dengan kata lain, ekonomi Indonesia tidak digerakkan oleh aktivitas menggali isi bumi, melainkan oleh aktivitas sehari-hari warganya. Belanja rumah tangga, usaha kecil, perdagangan lokal, jasa, dan pasar domestik justru menjadi mesin utama perputaran uang. Inilah sebabnya, ketika harga minyak dunia naik, Indonesia tidak otomatis ikut menjadi negara kaya. Dampaknya ada, tetapi terbatas.

Kondisi ini berbeda dengan negara-negara yang sejak awal memang hidup dari sumber daya alam. Arab Saudi, misalnya, menjadikan minyak dan gas sebagai fondasi utama ekonominya. Sekitar 40 hingga 45 persen PDB negara tersebut berasal langsung dari sektor energi. Ketika harga minyak naik, pendapatan negara melonjak, subsidi bisa diperbesar, dan proyek-proyek besar dapat dijalankan tanpa banyak hambatan. Minyak di Arab Saudi bukan sekadar komoditas, melainkan penopang negara.

Sementara itu, Rusia juga sangat bergantung pada energi dan pertambangan, dengan kontribusi sekitar 15 hingga 20 persen terhadap PDB. Bedanya, Rusia masih memiliki industri berat dan sektor militer sebagai penopang tambahan. Meski demikian, fluktuasi harga energi dan sanksi internasional tetap berpengaruh besar terhadap stabilitas ekonominya.

Kondisi yang hampir serupa terlihat di Iran. Negara ini memiliki cadangan minyak dan gas yang sangat besar, dengan kontribusi sektor energi diperkirakan lebih dari 20 persen PDB. Namun keterbatasan akses pasar global akibat sanksi membuat kekayaan alam tersebut tidak sepenuhnya tercermin dalam kesejahteraan ekonomi masyarakatnya.

Perbandingan antarnegara ini terlihat jelas jika disajikan dalam angka berikut.

NegaraTotal PDBPeran SDA dalam PDBNilai SDA per Tahun
Indonesia± US$1,3 triliun±8–9%± US$50–60 miliar
Arab Saudi± US$1,1 triliun±40–45%> US$300 miliar
Rusia± US$2 triliun±15–20%> US$100 miliar
Iran± US$400–450 miliar>20% (perkiraan)Puluhan miliar USD

Dari data tersebut terlihat bahwa Indonesia tidak termasuk negara dengan ekonomi berbasis sumber daya alam. Meski memiliki banyak jenis komoditas, nilainya tersebar dan tidak ada satu pun yang cukup besar untuk menjadi mesin utama ekonomi nasional. Berbeda dengan negara minyak, Indonesia tidak pernah bertumpu pada satu sumber daya yang dominan.

Bagi warga Mataram dan NTB pada umumnya, pemahaman ini penting agar diskusi soal ekonomi tidak terus berangkat dari asumsi yang keliru. Indonesia bukan negara miskin sumber daya alam, tetapi juga bukan negara yang kaya karena sumber daya alam. Sejak awal, ekonomi Indonesia tumbuh sebagai ekonomi pasar besar yang digerakkan oleh jutaan aktivitas ekonomi kecil dan menengah.

Memahami posisi ini membantu kita melihat masa depan dengan lebih realistis. Harapan akan kesejahteraan tidak bisa semata digantungkan pada tambang dan minyak, karena sejak awal mesin ekonomi Indonesia bukan berada di dalam tanah, melainkan di tangan warganya sendiri.