Jejak Kopassus dan Prabowo di Kamboja


Mataram – Hubungan militer Indonesia dan Kamboja sebenarnya tidak pernah benar-benar ramai dibicarakan. Tidak banyak konferensi pers. Tidak ada klaim besar. Bahkan dalam banyak catatan resmi, kisahnya hanya muncul sekilas. Tapi justru dari situ jejaknya terasa—pelan, sunyi, dan bertahan lama.
Banyak orang baru mengingat hubungan ini ketika konflik perbatasan Thailand–Kamboja kembali memanas. Cara bertahan Kamboja terlihat tenang, tidak reaktif, dan cenderung menahan diri. Bagi sebagian pengamat, pola itu terasa familiar. Seperti ada “cara lama” yang masih dipakai.
Jejak itu salah satunya datang dari Indonesia. Dari pelatihan militer yang dilakukan puluhan tahun lalu. Dari pertemuan-pertemuan yang tidak selalu tercatat rapi, tetapi membentuk cara berpikir para perwira muda Kamboja di masanya. Dan di dalam cerita itu, Kopassus punya peran yang tidak kecil.
Baca liputan lengkap kategori Militer di Opini Mataram.
Yang diajarkan bukan soal menang cepat. Bukan pula soal pamer kekuatan. Yang ditanamkan justru hal-hal mendasar: disiplin lapangan, ketahanan mental, penguasaan medan, dan—ini yang sering luput—kemampuan menahan diri saat situasi memanas. Dalam dunia pasukan khusus, tahu kapan tidak bergerak sering kali sama pentingnya dengan tahu kapan menyerang.
Di masa itu, Prabowo Subianto adalah bagian dari ekosistem tersebut. Jauh sebelum menjadi presiden, ia adalah perwira yang tumbuh dalam kultur pasukan khusus. Kultur yang keras, tertutup, dan tidak suka banyak bicara. Hubungan dengan Kamboja dibangun dalam suasana seperti itu: kerja sama profesional, bukan diplomasi panggung.
Tidak semua detail hubungan itu terdokumentasi secara terbuka. Tapi jejaknya terasa dari cara sebagian pasukan Kamboja hari ini bertindak. Mereka tidak terpancing adu gengsi. Tidak mudah bereaksi berlebihan. Dalam konflik terbaru, ketika tekanan meningkat, mereka memilih bertahan, bukan membalas secara frontal.
Pendekatan ini bukan berarti lemah. Justru sebaliknya. Dalam banyak kasus, itu tanda kedewasaan militer. Kesadaran bahwa tujuan utama bukan menang besar, tetapi menjaga negara tetap utuh. Cara berpikir seperti ini tidak muncul tiba-tiba. Ia dibentuk oleh pengalaman panjang, termasuk pelatihan-pelatihan awal yang menekankan ketenangan di bawah tekanan.
Momen simbolik hubungan itu sempat terlihat kembali pada 2022, ketika Prabowo berkunjung ke markas pasukan khusus Kamboja. Sambutan hangat yang ia terima bukan sekadar seremoni. Itu bahasa internal dunia militer. Bahasa yang hanya muncul jika ada sejarah bersama.
Tentu penting ditegaskan: Kamboja bukan “produk” Indonesia. Mereka punya jalan sendiri, pengalaman sendiri, dan konteks politik yang berbeda. Tetapi seperti fondasi rumah, pelatihan awal sering kali menentukan bagaimana sebuah struktur bertahan saat diuji. Fondasi itu tidak terlihat, tapi terasa ketika tekanan datang.
Di tengah konflik Thailand–Kamboja hari ini, warisan itu bekerja secara sunyi. Tidak muncul di headline. Tidak diklaim oleh siapa pun. Tapi terlihat dari satu hal sederhana: Kamboja tidak runtuh, tidak panik, dan tidak kehilangan kendali.
Mungkin di situlah makna terbesar jejak Kopassus dan Prabowo di Kamboja. Bukan soal kekuatan. Bukan soal pengaruh politik. Melainkan soal cara berpikir—bahwa dalam konflik, bertahan dengan kepala dingin sering kali jauh lebih penting daripada menang dengan gegabah.
Dan dalam dunia militer, warisan semacam itu biasanya justru yang paling lama bertahan.