Harga SSD Naik Tajam di Mataram, Stok Terbatas dan Konsumen Mulai Menahan Belanja

Redaksi Opini Mataram

Mataram — Dalam beberapa bulan terakhir, harga Solid State Drive (SSD) di Kota Mataram mengalami kenaikan yang cukup mencolok. Komponen yang selama ini menjadi solusi cepat untuk meningkatkan performa laptop dan komputer kini justru berubah menjadi barang yang membuat banyak konsumen berpikir ulang. Lonjakan harga tidak hanya terasa di etalase toko, tetapi juga berdampak langsung pada ketersediaan stok.

Gambaran kondisi tersebut terlihat di sebuah toko distributor laptop second bergaransi, sparepart, aksesori komputer, service, upgrade dan maintenance, Mitra Komputer (dahulu berlokasi di komplek pertokoan SMKN 2 Mataram, sekarang di Karang Bata – Mataram). Saat ini, harga SSD 128 GB dibanderol Rp275.000, kapasitas 256 GB mencapai Rp450.000, sementara SSD 512 GB sudah menyentuh Rp725.000. Namun, yang tersedia di rak hanya kapasitas 128 GB. Kapasitas di atasnya nyaris kosong.

“Sekarang kami lebih berani stok yang 128 GB saja. Kalau 256 atau 512 GB, harganya sudah terlalu naik. Takutnya barang lama terjual dan modal tertahan,” ujar Pemilik Mitra Komputer saat ditemui redaksi Opini Mataram. Menurutnya, kenaikan harga dari distributor terjadi cukup cepat, sementara daya beli konsumen tidak selalu bisa mengikutinya.

Fenomena ini mencerminkan dilema pelaku usaha ritel komputer di Mataram. Di satu sisi, permintaan upgrade penyimpanan masih ada, terutama dari mahasiswa dan pekerja kantoran. Di sisi lain, harga yang melonjak membuat konsumen lebih berhati-hati, bahkan cenderung menunda pembelian. “Banyak yang datang, tanya harga, lalu bilang nanti dulu,” tambahnya.

Kenaikan harga SSD sendiri tidak berdiri sendiri. Rantai pasok global industri semikonduktor masih menghadapi tekanan, sementara permintaan besar justru datang dari sektor pusat data, kecerdasan buatan, dan otomotif. Prioritas produksi ke sektor-sektor tersebut membuat pasokan SSD konsumen menjadi lebih terbatas, dan efeknya merembet hingga ke kota-kota seperti Mataram.

Faktor nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga ikut memberi tekanan. Karena sebagian besar SSD masih diimpor, fluktuasi kurs langsung tercermin pada harga jual di tingkat toko. Ketika rupiah melemah, harga komponen komputer hampir selalu ikut naik, tanpa banyak ruang bagi pedagang lokal untuk menahan harga.

Bagi konsumen di Mataram, kondisi ini memunculkan strategi bertahan. Sebagian memilih kapasitas minimal, sebagian lain tetap menggunakan hard disk lama meski performanya tertinggal. Ada pula yang menunggu momen promo atau mempertimbangkan SSD bekas, meski risikonya tentu tidak kecil.

Lonjakan harga SSD di Mataram menunjukkan bahwa teknologi tidak selalu bergerak semakin murah. Ketergantungan pada pasar global membuat komponen penting sekalipun rentan terhadap gejolak ekonomi. Di tengah tuntutan digitalisasi yang terus meningkat, mahalnya SSD menjadi pengingat bahwa akses teknologi juga sangat dipengaruhi oleh stabilitas ekonomi dan kebijakan industri yang lebih luas.