Pantai Kuranji Lombok Barat, Wisata Murah dengan Senja Menawan

Redaksi Opini Mataram

Mataram — Hanya sekitar tiga kilometer di sebelah barat Kota Mataram – Lombok, Pantai Kuranji menawarkan wajah pesisir yang tenang dan apa adanya. Terletak di Desa Kuranji Dalang, Lombok Barat – Nusa Tenggara Barat, pantai ini belum tersentuh hiruk-pikuk pariwisata massal. Justru karena itu, Kuranji terasa berbeda. Tidak ada kesan dipoles berlebihan, yang ada hanyalah pantai yang bersih, angin laut yang lembut, dan kehidupan kampung nelayan yang berjalan pelan mengikuti waktu.

Suasana paling memikat biasanya hadir menjelang sore. Saat matahari mulai turun, langit perlahan berubah warna, dari biru pucat menjadi jingga keemasan. Dari bibir pantai, siluet Gunung Agung di Bali tampak samar di kejauhan, seolah menjadi latar alami yang menutup hari. Banyak pengunjung memilih duduk diam, membiarkan senja lewat tanpa tergesa, ditemani suara ombak kecil yang menyentuh pasir.

Di sepanjang pantai, aktivitas warga berlangsung tanpa dibuat-buat. Perahu kayu bersandar usai melaut, jaring dijemur di bawah matahari, dan obrolan ringan antar nelayan mengisi sore. Bagi wisatawan, suasana ini menghadirkan pengalaman yang jarang ditemui di pantai-pantai populer: melihat kehidupan pesisir sebagaimana adanya, hangat dan bersahaja.

Pantai Kuranji juga menjadi tempat yang ramah untuk wisata keluarga. Deretan pohon waru tumbuh rindang, menciptakan teduhan alami di sepanjang garis pantai. Saat bunganya bermekaran, kelopak waru berjatuhan di pasir, memberi warna kuning lembut yang kontras dengan pasir gelap. Anak-anak dapat bermain dengan aman di bawah pepohonan, sementara orang tua menikmati angin laut tanpa harus mencari tempat berteduh buatan.

Bagi para pemancing, Kuranji punya cerita tersendiri. Dermaga lama yang kini sebagian rusak justru menjadi spot favorit untuk memancing dari pinggiran. Sejumlah ikan kerap menjadi incaran, mulai dari baby GT, ucul, semulang, minyak-minyak atau pompano, hingga ikan berjung dan jenis ikan pinggiran lainnya. Di sini, memancing bukan semata soal hasil, tetapi soal menikmati waktu—menunggu sambaran ikan sambil memandang laut yang tenang.

Tak jauh dari area pantai, terdapat pula makam keramat Bontong yang kerap diziarahi warga. Keberadaan tempat ini menambah dimensi lain dari Pantai Kuranji. Ia bukan sekadar ruang rekreasi, tetapi juga bagian dari lanskap budaya dan kepercayaan masyarakat setempat yang masih terjaga.

Menariknya, menikmati semua suasana itu tidak membutuhkan biaya besar. Hingga kini, Pantai Kuranji hanya memberlakukan biaya parkir sekitar Rp2.000. Di sekitar pantai, jajanan masyarakat lokal mudah ditemui, termasuk nasi campur rumahan dengan harga berkisar Rp7.000 hingga Rp10.000 per porsi. Dengan modal sekitar Rp20.000, pengunjung sudah bisa berwisata, bersantai di tepi pantai, sekaligus makan bersama keluarga.

Pada akhirnya, Pantai Kuranji mengingatkan bahwa liburan tidak selalu harus mahal atau jauh. Di pantai kecil di barat Mataram ini, orang datang untuk menikmati hal-hal sederhana: senja yang pelan, kampung nelayan yang hidup, rindangnya pohon waru, dan rasa cukup yang jarang disadari. Bukan kemewahan yang ditawarkan Kuranji, melainkan ketenangan—dan justru di situlah nilai wisatanya.