Karang Bagu: “Panggung Lama” yang Tak Pernah Sepi Aksi

Redaksi Opini Mataram
photo by Gus Yoga
photo by gus yoga

Mataram —Pagi ini, aroma tegang kembali tercium di Lingkungan Karang Bagu, Gang Kuburan, Mataram. Sejumlah aparat bersenjata lengkap tampak berjaga, sebagian lainnya menyisir gang sempit yang sudah tak asing bagi mereka. Ya, Karang Bagu lagi-lagi jadi sorotan. Seolah menjadi “panggung lama” yang tak pernah kehilangan penonton, kawasan ini kembali digeruduk karena kasus penyalahgunaan narkoba.

Fenomena ini bukan hal baru. Karang Bagu sudah lama dikenal sebagai “zona merah” bagi aparat penegak hukum. Seperti magnet yang terus menarik perhatian BNN dan kepolisian, setiap kali satu kasus berhasil diungkap, beberapa bulan kemudian muncul lagi kasus serupa. Seakan-akan ada siklus yang tak pernah putus.

Mengapa selalu Karang Bagu? Ibarat sumur yang tak pernah kering, akar persoalan di sini tampaknya lebih dalam dari sekadar urusan jual-beli barang haram. Ada masalah sosial, ekonomi, dan lingkungan yang tumpang tindih — membentuk ekosistem yang sulit diputus. Selama akar itu tak dicabut, penggerebekan hanya akan jadi ritual rutin: ramai hari ini, lalu senyap, dan muncul lagi beberapa minggu kemudian.

Jika diibaratkan, Karang Bagu seperti panci nasi yang gosong di dasar — bagian atasnya tampak bisa diselamatkan, tapi aroma hangus dari bawah terus keluar. Aparat boleh datang membersihkan keraknya, tapi tanpa mengganti “panci sosialnya”, bau itu akan tetap tercium.

BNN dan kepolisian memang patut diapresiasi karena tak pernah lelah menjaga kota ini dari ancaman narkoba. Namun, penegakan hukum tanpa dibarengi perubahan sosial hanya seperti menambal ban bocor tanpa mencari sumber paku. Karang Bagu butuh lebih dari sekadar razia — ia butuh rehabilitasi sosial, pendidikan, dan penguatan ekonomi warga.

Sampai hari ini, Karang Bagu masih jadi simbol paradoks: kecil di peta, tapi besar dalam pemberitaan. Dan penggerebekan hari ini seolah kembali mengingatkan kita bahwa perang melawan narkoba bukan hanya di gang sempit, tapi juga di dalam sistem sosial yang retak.