Bakso Super Jokowi 2

Redaksi Opini Mataram

Mataram —Di sudut Jl. Lingkar Selatan, Kota Mataram, berdirilah sebuah warung bakso yang namanya memiliki kadar kontroversi lebih tinggi daripada debat warganet: “Bakso Super 88 Jokowi 2.” Ya, betul. Jokowi dua. Seolah menegaskan ada yang pertama, ada yang berikutnya, dan entah kapan warung nomor tiga akan di-launching dengan upacara kenegaraan kecil-kecilan.

Melihat plang merah menyala ini, orang langsung mengencangkan ikat kepala: “Ini asli? Editan? Atribut kampanye? Atau eksperimen marketing tingkat kampung yang kelewat kreatif?” Saking uniknya, kita merasa perlu memanggil seseorang yang sudah lama berkecimpung dalam dunia analisis keaslian gambar: Roy Suryo. Bukan karena beliau harus, tapi karena ini kesempatan emas: spanduk bakso dengan potensi ‘dugaan keaslian visual’ yang jelas lebih damai daripada kasus editan-editan sebelumnya. Bayangkan laporan analisanya: Kemiringan tiang listrik 3 derajat, Saturasi warna merah plang sebesar 12 persen. Keaslian huruf “O” pada kata JOKOWI yang “diduga tidak mengalami distorsi”. Kolom opini ini yakin, Roy Suryo mungkin akan mengklarifikasi bahwa warung ini tidak ada hubungan kekerabatan dengan Istana, kecuali hubungan batin antara pedagang dan strategi branding yang cerdas.

Tetapi mari kita bicara serius sebentar. Dalam dunia usaha, terutama di level UMKM, kreativitas nama adalah alat bertahan hidup. Kalau ada pedagang menamai warungnya “Jokowi 2”, itu bukan klaim politik—melainkan keberanian menonjolkan diri di tengah persaingan. Toh, kalau Anda mau memastikan apakah ini “asli Jokowi” atau sekadar trik dagang, caranya sederhana: tanya langsung ke penjualnya. Tidak perlu laboratorium telematika.

Sementara itu, masyarakat Mataram mungkin sudah lebih maju: Mereka tidak terlalu sibuk mempersoalkan plang itu palsu atau asli. Yang mereka pedulikan adalah: Baksonya enak atau tidak? Karena kadang realitas paling jujur di republik ini bukan di ruang sidang, bukan di breaking news, tapi di mangkuk bakso panas yang menghibur setelah hari panjang.

Jadi, sebelum ramai-ramai membahas keasliannya, izinkan kolom ini mengingatkan: Tidak semua yang mengandung nama besar harus dianalisis. Kadang itu cuma dagang bakso, bukan teori konspirasi negara.