Venezuela dan Kamboja: Ketika Nyali Tentara Tidak Cukup Menyelamatkan Negara


Mataram — Ada satu hal yang sulit diabaikan ketika dunia menyaksikan bagaimana Venezuela terguncang begitu cepat oleh operasi militer Amerika Serikat pada awal Januari 2026. Bukan semata karena kekuatan militer AS yang besar—itu sudah bisa diprediksi sejak awal. Yang justru mengganggu nalar publik adalah rapuhnya perlawanan dari dalam. Negara sebesar Venezuela seolah kehilangan daya tahannya dalam waktu singkat.
Pertanyaan pun muncul, dan wajar jika ia muncul: apakah Venezuela benar-benar kalah karena kekuatan lawan, atau karena negara itu sudah lebih dulu retak dari dalam?
Pertanyaan ini menjadi semakin menarik jika kita bandingkan dengan konflik lain yang skalanya jauh lebih kecil secara global, tetapi kaya pelajaran militer: perlawanan Kamboja dalam konflik perbatasan dengan Thailand, baik pada periode 2008–2011 di kawasan Preah Vihear maupun eskalasi terbaru sekitar Desember 2025. Dua konflik berbeda, dua konteks berbeda, tetapi menyimpan satu benang merah yang penting untuk direnungkan.
Baca liputan lengkap kategori Militer di Opini Mataram.
Secara militer, Kamboja jelas berada di posisi lemah. Persenjataan terbatas, teknologi tertinggal, dan anggaran pertahanan jauh di bawah Thailand. Namun ada satu hal yang tidak kalah: kohesi internal. Tentara Kamboja tahu betul bahwa mereka tidak sedang mengejar kemenangan spektakuler. Targetnya sederhana—bertahan, menjaga wilayah inti, dan memastikan negara tidak runtuh dari dalam. Mereka tidak menang perang, tetapi mereka juga tidak kehilangan negara.
Venezuela justru menunjukkan gambaran yang lebih rumit. Di tingkat bawah, keberanian itu nyata. Laporan lapangan menunjukkan bahwa pasukan pengamanan dan unsur militer tertentu bertahan dan bertempur, bahkan banyak yang gugur. Ini penting untuk ditegaskan: kegagalan Venezuela bukan karena tentaranya pengecut. Nyali itu ada, dan dibayar dengan nyawa.
Masalahnya muncul di tingkat yang lebih atas.
Ketika serangan asing datang langsung menyasar pusat kekuasaan, negara tidak hanya diuji dari sisi senjata, tetapi dari soliditas politik dan komando. Di sinilah Venezuela terlihat goyah. Tidak ada perlawanan nasional yang terkoordinasi. Tidak ada respons strategis jangka panjang. Yang tampak justru kebingungan, fragmentasi, dan keputusan-keputusan yang terkesan diambil secara reaktif.
Di ruang publik, kondisi ini sering diberi satu label keras: pengkhianatan. Namun istilah ini terlalu sederhana untuk menjelaskan kenyataan yang lebih kompleks. Yang terjadi di Venezuela bukan sekadar orang berbalik arah secara terbuka, melainkan retaknya loyalitas struktural—ketika elite politik, pejabat, dan komando negara tidak lagi sepenuhnya yakin bahwa sistem yang mereka bela masih bisa dipertahankan.
Dalam perang modern, ini sangat menentukan. Negara jarang runtuh karena peluru pertama. Ia runtuh karena keputusan-keputusan sunyi: ketika pejabat mulai menghitung keselamatan pribadi, ketika komando ragu mengambil risiko, ketika kesatuan suara hilang. Pada titik itu, serangan dari luar hanya menjadi pemicu terakhir.
Bandingkan dengan Kamboja. Mereka sadar betul batas kemampuan mereka. Karena itu, mereka justru menahan diri. Tidak terpancing eskalasi besar, tidak mencoba adu gengsi militer, dan tidak memaksakan kemenangan. Strateginya mungkin terlihat pasif di mata luar, tetapi di situlah kekuatannya. Tidak ada kepanikan massal, tidak ada pembelotan terbuka, tidak ada perpecahan yang mencolok.
Perbedaan ini penting. Kamboja bertahan sebagai negara karena elite dan militernya masih bergerak dalam satu irama, meski dengan langkah kecil. Venezuela menghadapi ujian yang jauh lebih ekstrem—intervensi langsung negara adidaya—tetapi ujian terberatnya justru datang dari dalam: apakah negara itu sendiri masih percaya pada dirinya sendiri? atau tidak?
Dalam konteks ini, nyali tentara menjadi sesuatu yang tragis. Keberanian di garis depan tidak cukup jika negara di belakangnya tidak lagi utuh. Prajurit bisa bertempur, tetapi tanpa arah strategis dan dukungan politik yang solid, keberanian itu mudah berubah menjadi pengorbanan sia-sia.
Pelajaran dari dua konflik ini seharusnya membuat kita berpikir ulang tentang makna kekuatan nasional. Kekuatan tidak hanya diukur dari jumlah senjata atau kecanggihan teknologi, tetapi dari kemampuan negara menjaga kepercayaan di dalamnya sendiri. Ketika kepercayaan itu runtuh, negara bisa kalah bahkan sebelum pertempuran benar-benar dimulai.
Venezuela menunjukkan bagaimana negara bisa jatuh cepat ketika tekanan eksternal bertemu dengan retakan internal. Kamboja menunjukkan sebaliknya: bagaimana negara kecil bisa tetap berdiri karena memilih bertahan dengan kepala dingin dan kesatuan yang terjaga.
Akhirnya, ada satu kesimpulan pahit yang sulit dibantah: nyali tentara hanya bekerja jika negara di belakangnya masih layak dibela bersama. Jika elite saling curiga, jika komando goyah, dan jika legitimasi politik menipis, maka keberanian di garis depan tidak akan pernah cukup.
Di situlah tragedi Venezuela hari ini—bukan sekadar kalah oleh kekuatan asing, tetapi kalah oleh kelelahan panjang sebuah negara. Dan di situlah pula pelajaran dari Kamboja menjadi relevan: dalam perang modern, bertahan sebagai negara sering kali lebih penting daripada menang sebagai pasukan.