Drone Iran: Dari Ababil hingga Mohajer-10 dan Dampaknya terhadap Perang Modern


Mataram – Dalam beberapa dekade terakhir, Iran berkembang menjadi salah satu negara dengan program drone militer paling luas dan beragam di dunia.
Di tengah sanksi internasional yang membatasi akses terhadap pesawat tempur modern, Teheran memilih jalur yang berbeda: membangun kekuatan udara berbasis unmanned aerial vehicles (UAV) atau drone.
Strategi ini berakar dari pengalaman perang panjang dalam Iran–Iraq War pada 1980-an. Konflik tersebut menunjukkan kepada militer Iran bahwa teknologi tanpa awak dapat menjadi solusi murah untuk misi pengintaian dan serangan jarak jauh.
Baca liputan lengkap kategori Internasional di Opini Mataram.
Sejak saat itu, program drone Iran berkembang pesat. Dari pesawat pengintai sederhana, Iran kemudian membangun ekosistem UAV yang mencakup berbagai kategori, mulai dari drone pengintaian taktis, drone tempur jarak jauh, drone kamikaze atau loitering munition, hingga drone strategis untuk patroli maritim.
Pada 2026, berbagai lembaga analisis pertahanan memperkirakan Iran memiliki lebih dari dua puluh model UAV aktif dalam inventaris militernya.
Drone-drone tersebut tidak hanya digunakan oleh militer Iran. Beberapa juga muncul dalam berbagai konflik regional dan global, termasuk perang antara Russia dan Ukraine.
Keberadaan drone Iran di berbagai medan perang menunjukkan perubahan penting dalam karakter konflik modern. Senjata yang relatif murah kini dapat memberikan dampak strategis besar terhadap keseimbangan kekuatan militer.
Fondasi Program UAV: Keluarga Ababil

Salah satu fondasi awal program drone Iran adalah keluarga drone Ababil, yang mulai dikembangkan pada akhir 1980-an.
Drone ini dirancang untuk misi pengintaian taktis di medan perang. Fungsi utamanya adalah memantau pergerakan pasukan musuh serta membantu koreksi tembakan artileri.
Varian yang paling dikenal adalah Ababil-3, sebuah UAV ringan yang dapat diluncurkan dari katapel atau landasan pendek. Sistem ini memungkinkan unit militer di garis depan mengoperasikan drone tanpa membutuhkan infrastruktur pangkalan udara yang besar.
Ababil-3 memiliki panjang sekitar tiga meter dengan bentang sayap sedikit di atas tiga meter. Drone ini mampu terbang hingga sekitar empat jam dengan jangkauan operasi sekitar 100 kilometer dan ketinggian operasi hingga lima ribu meter.
Kemampuannya membawa kamera pengintai dan mengirimkan gambar secara real-time menjadikannya alat yang efektif untuk pengawasan taktis di medan perang.
Tabel Spesifikasi Ababil-3
| Parameter | Data Perkiraan |
|---|---|
| Panjang | ± 2.9 m |
| Bentang sayap | ± 3.2 m |
| Kecepatan | ± 200 km/jam |
| Endurance | ± 4 jam |
| Jangkauan | ± 100 km |
| Ketinggian operasi | ± 5.000 m |
| Peran | Pengintaian taktis |
| Harga estimasi | USD 50.000 – 100.000 |
Evolusi Drone Tempur: Keluarga Mohajer
Selain Ababil, keluarga drone Mohajer menjadi salah satu proyek UAV paling penting dalam sejarah militer Iran.
Program ini dimulai pada 1980-an dan terus berkembang hingga menghasilkan berbagai generasi drone yang semakin canggih.
Salah satu model yang paling dikenal adalah Mohajer-6, drone tempur taktis yang mampu melakukan pengintaian sekaligus serangan presisi.
Drone ini memiliki endurance sekitar 12 jam dengan radius operasi sekitar 200 hingga 300 kilometer. Mohajer-6 dilengkapi sensor elektro-optik yang memungkinkan operator memantau target secara real-time.
Selain itu, drone ini dapat membawa bom berpemandu Qaem untuk menyerang kendaraan, posisi artileri, atau infrastruktur militer.
Drone ini diketahui digunakan oleh Iran dalam operasi militer di Syria dan kemudian muncul dalam konflik Rusia-Ukraina.
Tabel Spesifikasi Mohajer-6
| Parameter | Data Perkiraan |
|---|---|
| Panjang | ± 5.7 m |
| Bentang sayap | ± 10 m |
| Endurance | ± 12 jam |
| Radius operasi | 200–300 km |
| Payload | ± 100 kg |
| Senjata | Bom berpemandu Qaem |
| Peran | ISR & serangan presisi |
| Harga estimasi | USD 1 – 2 juta |
Drone MALE Jarak Jauh: Shahed-129

Di antara drone tempur Iran, Shahed-129 merupakan salah satu UAV paling penting dalam inventaris militer negara tersebut.
Drone ini termasuk kategori MALE (Medium Altitude Long Endurance) yang mampu melakukan pengawasan udara jangka panjang sekaligus serangan presisi.
Dengan endurance sekitar 24 jam dan jangkauan lebih dari 1.700 kilometer, drone ini dirancang untuk patroli udara jarak jauh.
Banyak analis militer membandingkan Shahed-129 dengan drone tempur Barat seperti MQ-1 Predator milik United States.
Tabel Spesifikasi Shahed-129
| Parameter | Data Perkiraan |
|---|---|
| Endurance | ± 24 jam |
| Jangkauan | ± 1.700–2.000 km |
| Payload | ± 400 kg |
| Senjata | Bom Sadid / rudal |
| Peran | ISR dan UCAV |
| Harga estimasi | USD 3 – 7 juta |
Drone Kamikaze: Shahed-136

Drone Iran yang paling dikenal sebagai artis global adalah Shahed-136, sebuah loitering munition atau drone kamikaze.
Drone ini memiliki desain sayap delta dan diluncurkan dari kendaraan peluncur.
Keunggulan utama Shahed-136 bukan pada teknologi yang rumit, melainkan pada biaya produksi yang sangat rendah sehingga dapat digunakan dalam serangan gelombang besar.
Drone ini mendapat perhatian internasional setelah digunakan dalam konflik antara Rusia dan Ukraina.
Tabel Spesifikasi Shahed-136
| Parameter | Data Perkiraan |
|---|---|
| Panjang | ± 3.5 m |
| Bentang sayap | ± 2.5 m |
| Kecepatan | ± 180 km/jam |
| Jangkauan | 1.500–2.500 km |
| Hulu ledak | 30–50 kg |
| Peran | Drone kamikaze |
| Harga estimasi | USD 20.000 – 40.000 |
Drone Strategis: Kaman-22

Salah satu proyek drone paling ambisius Iran adalah Kaman-22, yang disebut sebagai UAV wide-body pertama yang dikembangkan negara tersebut.
Drone ini dirancang untuk misi pengawasan dan serangan jarak jauh dan sering dibandingkan dengan platform Barat seperti MQ-9 Reaper.
Tabel Spesifikasi Kaman-22
| Parameter | Data Perkiraan |
|---|---|
| Endurance | ± 24 jam |
| Jangkauan | ± 3.000 km |
| Payload | ± 300 kg |
| Senjata | bom pintar / rudal |
| Peran | UCAV strategis |
| Harga estimasi | USD 5 – 10 juta |
Drone Generasi Baru: Mohajer-10
Salah satu pengembangan terbaru dalam program UAV Iran adalah Mohajer-10, yang diperkenalkan secara resmi pada 2023 sebagai generasi terbaru dari keluarga Mohajer.
Drone ini dirancang untuk misi pengawasan jarak jauh dan serangan presisi dengan kapasitas payload lebih besar dibanding generasi sebelumnya.
Tabel Spesifikasi Mohajer-10
| Parameter | Data Perkiraan |
|---|---|
| Endurance | ± 24 jam |
| Jangkauan | ± 2.000 km |
| Kecepatan | ± 210 km/jam |
| Payload | ± 300 kg |
| Peran | UCAV jarak jauh |
| Senjata | bom pintar / rudal |
| Harga estimasi | USD 3 – 5 juta |
Drone Patroli Maritim: Fotros
Drone Fotros merupakan salah satu UAV terbesar yang pernah dikembangkan Iran dan dirancang untuk misi pengawasan jarak jauh.
Dengan endurance hingga sekitar 30 jam, drone ini memungkinkan militer Iran memantau aktivitas kapal dan wilayah maritim strategis seperti Teluk Persia.
Tabel Spesifikasi Fotros
| Parameter | Data Perkiraan |
|---|---|
| Endurance | ± 30 jam |
| Jangkauan | > 2.000 km |
| Payload | ± 300 kg |
| Ketinggian operasi | ± 7.000 m |
| Peran | Pengawasan strategis |
| Harga estimasi | USD 3 – 6 juta |
Drone Jet Berkecepatan Tinggi: Karrar
Berbeda dengan sebagian besar UAV Iran yang menggunakan mesin baling-baling, Karrar menggunakan mesin turbojet.
Desain ini memungkinkan drone mencapai kecepatan jauh lebih tinggi dibanding drone konvensional.
Tabel Spesifikasi Karrar
| Parameter | Data Perkiraan |
|---|---|
| Mesin | Turbojet |
| Kecepatan | ± 900 km/jam |
| Jangkauan | ± 1.000 km |
| Payload | bom atau rudal |
| Peran | Drone serangan / target |
| Harga estimasi | USD 500.000 – 1 juta |
Drone Iran dan Perubahan Strategi Perang Modern
Perkembangan program drone Iran menunjukkan bagaimana teknologi militer dapat berevolusi secara signifikan bahkan di tengah keterbatasan sumber daya dan sanksi internasional.
Dengan memanfaatkan produksi massal dan biaya yang relatif rendah, Iran berhasil menciptakan berbagai jenis UAV yang mampu menjalankan misi pengintaian, serangan presisi, hingga serangan kamikaze jarak jauh.
Dalam banyak konflik modern, drone seperti Shahed-136 memperlihatkan bahwa sistem persenjataan murah dapat memberikan tekanan besar terhadap sistem pertahanan udara yang jauh lebih mahal.
Perkembangan ini tidak hanya mengubah strategi militer Iran, tetapi juga mempengaruhi cara negara-negara lain merancang pertahanan udara dan doktrin perang mereka.
Bagi banyak analis pertahanan, munculnya armada drone Iran menandai perubahan besar dalam dinamika peperangan abad ke-21. Di era ini, jumlah, fleksibilitas operasi, dan efisiensi biaya sering kali menjadi faktor yang sama pentingnya dengan teknologi canggih dalam menentukan keseimbangan kekuatan militer di medan perang.