Peresean Lombok, Tradisi Duel Suku Sasak yang Sarat Keberanian dan Persaudaraan


Mataram – Pulau Lombok sering dikenal karena pantai berpasir putih, panorama Gunung Rinjani, dan desa-desa adatnya yang masih terjaga. Namun di balik keindahan alam tersebut, Lombok juga menyimpan tradisi budaya yang kuat dan penuh makna. Salah satunya adalah Peresean (sering juga disebut Presaian / Gebug oleh masyarakat lokal), sebuah duel tradisional yang telah menjadi simbol keberanian masyarakat Suku Sasak selama berabad-abad.
Bagi wisatawan, menyaksikan Peresean bukan sekadar melihat pertarungan. Ini adalah pengalaman budaya yang memperlihatkan bagaimana sejarah, nilai kehormatan, dan semangat persaudaraan hidup dalam tradisi lokal.
Ketika Arena Menjadi Panggung Keberanian
Di arena Peresean, dua pria yang disebut pepadu saling berhadapan. Mereka membawa penjalin, tongkat rotan yang lentur namun keras, serta ende, perisai dari kulit kerbau yang digunakan untuk menahan serangan.
Baca liputan lengkap kategori Xplore di Opini Mataram.
Pertarungan dipimpin oleh wasit yang disebut pakembar. Biasanya terdapat dua pakembar yang mengatur jalannya pertandingan, memisahkan pepadu jika duel terlalu keras, sekaligus menentukan pemenang.
Dalam tradisi Peresean, terdapat pula beberapa istilah khas yang dikenal oleh masyarakat Sasak, antara lain:
• Bebuntut – pukulan rotan yang mengenai tubuh lawan
• Pepadu – petarung yang bertanding di arena
• Penjalin – tongkat rotan sebagai senjata utama
• Ende – tameng atau perisai dari kulit kerbau
• Pakembar – wasit yang memimpin duel
• Sekehe – kelompok atau rombongan pepadu dari suatu desa
Setiap gerakan cepat, setiap pukulan rotan, dan setiap tangkisan perisai memunculkan sorak-sorai penonton yang mengelilingi arena.
Sekilas, pertunjukan ini tampak keras. Namun di balik itu, Peresean adalah tentang keberanian yang dikendalikan oleh aturan, serta sportivitas yang dijunjung tinggi. Ketika duel selesai, para pepadu biasanya saling memeluk sebagai tanda bahwa pertarungan hanyalah bagian dari tradisi, bukan permusuhan.
Jejak Sejarah dari Masa Kerajaan
Dalam catatan budaya daerah, Peresean dipercaya telah ada sejak masa kerajaan di Lombok. Tradisi ini dahulu menjadi latihan ketangkasan bagi para pemuda yang kelak dapat menjadi prajurit.
Pada masa ketika konflik antar wilayah masih mungkin terjadi, kemampuan menghadapi lawan dengan keberanian dan ketahanan fisik menjadi kualitas penting. Melalui Peresean, para pemuda belajar mengendalikan rasa takut, menjaga kehormatan, sekaligus memahami batas antara persaingan dan persaudaraan.
Dalam beberapa tradisi lokal, Peresean bahkan pernah dikaitkan dengan ritual memohon hujan pada musim kemarau. Darah yang keluar dari duel dianggap sebagai simbol pengorbanan yang “membangunkan alam”, sebuah kepercayaan lama dalam budaya agraris masyarakat Sasak.
Dalam konteks ritual ini, Peresean biasanya dilakukan di lapangan desa dan diiringi musik tradisional Sasak seperti gendang, gong, dan suling, yang menambah atmosfer dramatis di arena.
Dari Tradisi Keras Menjadi Warisan Budaya
Pada masa lalu, Peresean dikenal sebagai pertarungan yang cukup keras. Duel bisa berlangsung hingga salah satu pepadu tidak mampu melanjutkan, tidak selalu dibatasi jumlah ronde, luka berdarah dianggap bagian wajar dari pertandingan, terkadang tidak ada standar keselamatan yang jelas. Luka akibat pukulan rotan bukan hal yang jarang terjadi, dan keberanian para pepadu menjadi ukuran kehormatan mereka.
Namun seiring perubahan zaman, aturan Peresean mengalami penyesuaian. Pertandingan kini memiliki batas ronde yang lebih jelas, biasanya tiga hingga lima ronde, dan pakembar dapat menghentikan duel jika risiko cedera terlalu besar.
Transformasi ini menjadikan Peresean tetap hidup sebagai warisan budaya, tanpa kehilangan makna aslinya.
Kini tradisi tersebut sering ditampilkan dalam festival budaya, perayaan daerah, maupun atraksi wisata di berbagai wilayah Lombok, termasuk di sekitar Mataram dan desa-desa adat Sasak.
Pengalaman Budaya yang Tidak Terlupakan
Menyaksikan Peresean secara langsung adalah pengalaman yang sulit dilupakan. Dentuman gendang, irama musik tradisional, sorak penonton, dan ketegangan di arena menciptakan suasana yang sangat hidup.
Wisatawan tidak hanya melihat sebuah duel, tetapi juga merasakan semangat budaya yang diwariskan turun-temurun.
Peresean mengajarkan bahwa keberanian tidak selalu berarti mengalahkan lawan. Kadang keberanian justru terlihat ketika dua orang bertarung dengan penuh hormat, lalu berdiri kembali sebagai saudara.
Di situlah keindahan sejati tradisi ini.
Bagi siapa pun yang ingin mengenal Lombok lebih dalam, menyaksikan Peresean adalah cara terbaik untuk memahami bahwa pulau ini bukan hanya tentang lanskap yang indah, tetapi juga tentang warisan budaya yang terus hidup di tengah masyarakatnya.
Detail Lokal yang Jarang Diketahui tentang Peresean
Di balik pertunjukan yang sering dilihat wisatawan, masyarakat Sasak mengenal sejumlah praktik dan istilah yang membuat Peresean terasa sangat lokal dan autentik.
Salah satunya adalah perbedaan antara pepadu bengkung dan pepadu tamu.
Pepadu bengkung biasanya adalah petarung yang berasal dari desa penyelenggara atau kelompok tuan rumah. Sementara pepadu tamu adalah petarung dari desa lain yang datang untuk bertanding. Duel antara kedua pihak ini sering menjadi pertandingan yang paling ditunggu oleh penonton.
Dalam budaya Peresean lama, luka bukan selalu dianggap kekalahan, melainkan simbol keberanian. Seorang pepadu yang tetap berdiri meskipun kepalanya terkena pukulan rotan sering mendapat penghormatan dari penonton.
Selain itu, suasana arena Peresean juga dipengaruhi oleh dukungan penonton. Dalam tradisi desa, penonton biasanya akan memberi semangat kepada pepadu dari wilayahnya sendiri, menciptakan atmosfer kompetisi yang meriah namun tetap berada dalam batas persaudaraan.
Meskipun duel berlangsung keras, nilai yang dijaga dalam tradisi ini adalah kehormatan dan persahabatan. Karena itu setelah pertandingan selesai, pepadu yang sebelumnya saling memukul biasanya kembali duduk bersama, bahkan saling bercanda.
Di situlah Peresean menunjukkan maknanya yang paling dalam: keberanian boleh dipertarungkan di arena, tetapi persaudaraan tetap dijaga setelahnya.
Lombok, Tempat Tradisi Masih Hidup
Di banyak tempat di dunia, tradisi lama perlahan hanya tinggal cerita di buku sejarah. Namun di Lombok, beberapa tradisi masih hidup di tengah masyarakatnya. Peresean adalah salah satunya.
Momen seperti ini mengingatkan bahwa perjalanan bukan hanya tentang melihat tempat baru, tetapi juga memahami jiwa sebuah daerah.
Karena itu, jika suatu hari langkah Anda membawa perjalanan ke Lombok, jangan hanya mengejar pantainya yang indah atau pemandangan alamnya yang memukau. Cobalah berhenti sejenak di desa-desa Sasak, duduk di pinggir arena, dan saksikan Peresean dimainkan.
Di sana Anda akan menemukan sesuatu yang sering dicari oleh para pelancong sejati:
tradisi yang masih hidup, keberanian yang nyata, dan persaudaraan yang terasa tulus.
Mungkin saat itulah Anda akan menyadari bahwa Lombok bukan sekadar destinasi wisata, melainkan sebuah tempat di mana budaya, sejarah, dan kehidupan sehari-hari menyatu dalam pengalaman perjalanan yang sulit dilupakan.
Sumber rujukan
https://id.wikipedia.org/wiki/Peresean
https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/?newdetail&detailCatat=439
https://timesindonesia.co.id/english/511181/presean-tradition-in-lombok-a-meaningful-sasak-cultural-heritage
https://disbudpar.ntbprov.go.id/tradisi-peresean
https://books.google.com/books/about/Lombok_Mirror_of_Bali.html