IHSG Anjlok di Tengah Eskalasi Konflik Iran dan Penutupan Selat Hormuz


Gejolak geopolitik kembali mengguncang pasar keuangan dunia. Memanasnya konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel serta penutupan Selat Hormuz memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.
Mataram – Pasar keuangan sering kali bereaksi lebih cepat daripada diplomasi. Ketika ketegangan geopolitik meningkat, grafik indeks saham biasanya menjadi cermin pertama dari kecemasan global. Hal inilah yang kini terlihat pada Indeks Harga Saham Gabungan Indonesia yang mengalami tekanan cukup dalam di tengah memanasnya konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Bagi investor global, konflik di Timur Tengah bukan sekadar isu politik. Kawasan tersebut merupakan jantung pasokan energi dunia. Setiap ancaman terhadap stabilitas wilayah ini hampir selalu diikuti lonjakan volatilitas di pasar energi, yang kemudian menjalar ke pasar saham global. Kali ini kekhawatiran terbesar berpusat pada satu titik sempit di peta dunia yang memiliki dampak ekonomi luar biasa besar: Selat Hormuz.
Baca liputan lengkap kategori Ekonomi di Opini Mataram.
Baca liputan lengkap kategori Ekonomi di Opini Mataram.
Selat sempit yang memisahkan Iran dari negara-negara Teluk ini merupakan jalur utama distribusi energi global. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur ini setiap hari. Ketika Iran mengancam menutup atau membatasi lalu lintas kapal di wilayah tersebut sebagai respons terhadap tekanan militer dan politik dari Amerika Serikat dan Israel, pasar langsung merespons dengan kegelisahan.
Lonjakan harga minyak menjadi reaksi paling cepat. Ketika pasokan energi global terancam, harga minyak biasanya naik tajam karena pasar memperhitungkan risiko gangguan distribusi. Bagi negara-negara pengimpor energi seperti Indonesia, kenaikan harga minyak bukan sekadar isu perdagangan internasional. Ia dapat merembet ke inflasi, biaya produksi industri, hingga tekanan terhadap nilai tukar.
Pasar saham kemudian menjadi korban berikutnya. Investor global cenderung menarik dana dari aset berisiko ketika ketidakpastian meningkat. Dana investasi biasanya berpindah menuju aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS, emas, atau obligasi pemerintah negara maju. Dalam situasi seperti ini, pasar negara berkembang sering menjadi yang paling cepat terkena dampaknya.
Indeks Harga Saham Gabungan tidak terkecuali. Dalam beberapa sesi perdagangan terakhir, indeks saham Indonesia mengalami tekanan jual yang cukup besar, mengikuti tren pelemahan bursa Asia. Sentimen global yang negatif membuat investor cenderung mengambil posisi defensif, terutama terhadap saham-saham yang sensitif terhadap perlambatan ekonomi global.
Tekanan terhadap pasar juga diperkuat oleh meningkatnya perhatian investor terhadap penilaian risiko dari lembaga pemeringkat global seperti Fitch Ratings. Bagi pelaku pasar internasional, setiap sinyal kehati-hatian dari lembaga pemeringkat dapat memengaruhi persepsi terhadap stabilitas ekonomi dan risiko investasi suatu negara. Ketika ketidakpastian geopolitik meningkat dan volatilitas pasar energi melonjak, investor global biasanya menjadi lebih selektif dalam menempatkan modal mereka di pasar negara berkembang.
Peringkat utang sebuah negara memainkan peran penting dalam arus modal internasional. Indonesia sendiri masih berada pada kategori investment grade dengan peringkat BBB dari Fitch Ratings. Namun dalam situasi global yang tidak stabil, sentimen dari lembaga pemeringkat tetap dapat memicu kehati-hatian investor institusi, yang kemudian berdampak pada arus keluar modal dari pasar saham maupun obligasi negara berkembang.
Namun tekanan pasar saham tidak terjadi secara merata di semua sektor. Dalam dinamika krisis energi, selalu ada pemenang dan pecundang. Saham-saham yang berkaitan dengan energi dan komoditas sering kali justru mendapatkan momentum ketika harga minyak dan energi melonjak. Perusahaan batu bara, energi, dan sumber daya alam dapat memperoleh keuntungan dari kenaikan harga komoditas global.
Sebaliknya sektor yang sangat bergantung pada energi seperti transportasi, logistik, dan industri manufaktur biasanya menghadapi tekanan karena biaya operasional meningkat. Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan biaya distribusi dan produksi, yang pada akhirnya mengurangi margin keuntungan perusahaan.
Bagi Indonesia, dampak konflik Timur Tengah memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar pergerakan pasar saham. Negara ini masih mengimpor sebagian besar kebutuhan energi, terutama minyak mentah dan LPG. Jika gangguan distribusi energi dari Timur Tengah berlangsung lama, pemerintah mungkin harus mencari sumber pasokan alternatif, yang biasanya datang dengan harga lebih mahal.
Konsekuensi berikutnya bisa muncul pada kebijakan fiskal dan moneter. Lonjakan harga energi dapat meningkatkan tekanan inflasi domestik. Jika inflasi meningkat terlalu cepat, bank sentral mungkin akan menghadapi dilema antara menjaga stabilitas harga dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Meski demikian, sejarah pasar menunjukkan bahwa gejolak geopolitik sering kali memiliki dua fase. Pada fase pertama, pasar bereaksi secara emosional terhadap ketidakpastian. Pada fase kedua, investor mulai menghitung dampak ekonomi yang sebenarnya. Jika konflik tidak berkembang menjadi perang regional yang lebih luas, pasar biasanya akan menemukan keseimbangannya kembali.
Namun jika ketegangan di sekitar Selat Hormuz benar-benar berubah menjadi gangguan distribusi energi global dalam jangka panjang, dampaknya bisa jauh lebih besar. Dalam skenario tersebut, dunia berpotensi menghadapi kombinasi yang tidak nyaman: harga energi tinggi, inflasi global meningkat, dan pertumbuhan ekonomi yang melambat.
Bagi pasar saham seperti Indeks Harga Saham Gabungan, situasi ini berarti satu hal yang hampir pasti: volatilitas tinggi kemungkinan akan menjadi tema utama dalam waktu dekat. Investor mungkin harus terbiasa dengan pergerakan pasar yang tajam, mengikuti setiap perkembangan baru dari kawasan yang selama puluhan tahun menjadi titik paling sensitif dalam geopolitik energi dunia.
Di pasar global, perang sering kali dimulai dengan rudal. Namun di pasar keuangan, perang hampir selalu dimulai dengan grafik yang jatuh terlebih dahulu.
Catatan Redaksi
Artikel ini disusun berdasarkan perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, serta dampaknya terhadap pasar energi global dan pasar keuangan. Informasi dirangkum dari berbagai laporan media internasional, lembaga keuangan, dan sumber berita ekonomi global
Sumber Rujukan
Berikut beberapa sumber berita dan analisis yang menjadi referensi dalam artikel ini:
- Antara News –
https://www.antaranews.com/berita/5451367/bei-pastikan-koreksi-ihsg-imbas-eskalasi-konflik-iran-dengan-as-israel - Reuters –
https://www.reuters.com/world/middle-east/iran-vows-attack-any-ship-trying-pass-through-strait-hormuz-2026-03-02/ - Reuters –
https://www.reuters.com/business/energy/hormuz-shutdown-could-force-iraq-kuwait-curb-oil-output-within-days-jp-morgan-2026-03-04/ - The Guardian –
https://www.theguardian.com/business/2026/mar/03/china-calls-protection-vessels-strait-hormuz-amid-soaring-shipping-costs - CNBC Indonesia Research –
https://www.cnbcindonesia.com/research/20260302064718-128-714976/jejak-ihsg-di-tengah-perang-iran-hingga-konflik-dunia-seberapa-buruk - Bloomberg Technoz –
https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/101261/bursa-saham-asia-dibuka-merah-akibat-konflik-iran - Analisis Pasar Modal –
https://snips.stockbit.com/snips-terbaru/-eskalasi-konflik-asiran-dampak-ke-ihsg