5 Senjata Buatan Indonesia dan Lisensinya, Jejak Kemandirian Industri Pertahanan indonesia

Redaksi Opini Mataram

Mataram — Indonesia sering dipersepsikan hanya sebagai pembeli alat utama sistem persenjataan. Padahal, dalam dua dekade terakhir, industri pertahanan nasional tumbuh perlahan namun konsisten. Sejumlah senjata kini dirancang, diproduksi, dan digunakan sendiri oleh Indonesia, baik melalui lisensi maupun pengembangan mandiri.

Perjalanan ini tidak terjadi secara instan. Indonesia memulainya dengan kerja sama luar negeri, mempelajari teknologi, lalu mengembangkan kemampuan sendiri. Dari senjata ringan hingga wahana tempur strategis, arah kebijakannya jelas: mengurangi ketergantungan dan membangun kemandirian.

Yang pertama senapan serbu SS2 menjadi contoh paling nyata. Senjata ini dikembangkan oleh PT Pindad dan kini menjadi senjata standar prajurit TNI. SS2 menggunakan peluru 5,56 mm NATO dan dirancang untuk kondisi tropis, sehingga tetap andal di medan lembap dan panas. Awalnya, SS2 memang berangkat dari lisensi senapan FN FNC asal Belgia yang digunakan pada generasi sebelumnya. Namun seiring waktu, desain dan materialnya dikembangkan sendiri. Kini SS2 bukan lagi sekadar hasil lisensi, melainkan senjata nasional dengan penguasaan teknologi penuh dan bahkan telah diekspor.

Dalam keluarga besar SS2, varian V2 menempati posisi sebagai senapan serbu “serba guna”. Ia berada di antara varian laras pendek seperti SS2-V1 yang lebih cocok untuk pertempuran jarak dekat, dan varian laras panjang seperti SS2-V3 yang dioptimalkan untuk akurasi jarak menengah. Varian yang lebih modern seperti SS2-V5 dan V7 kemudian hadir dengan rel Picatinny penuh dan ergonomi yang disesuaikan kebutuhan tempur modern, namun konfigurasi pada gambar menunjukkan generasi yang lebih awal—sederhana, fungsional, dan terbukti dalam layanan aktif. Senapan ini dirancang untuk menembakkan amunisi standar NATO seperti SS109 atau M855, dengan laju tembak sekitar 700 hingga 750 peluru per menit, cukup untuk mendukung pertempuran infanteri konvensional. Berat kosongnya berada di kisaran 3,9 kilogram dengan kapasitas magazen standar 30 butir tipe STANAG, serta jarak tembak efektif sekitar 300 hingga 400 meter.

Yang kedua di kelas senjata genggam, Pistol P3A juga menunjukkan proses yang serupa. Senjata genggam buatan PT Pindad yang dikembangkan sebagai pistol standar untuk kebutuhan militer dan aparat penegak hukum di Indonesia. P3A menggunakan kaliber 7,65 × 17 mm Browning (.32 ACP), kaliber yang dikenal memiliki hentakan ringan, stabil, dan mudah dikendalikan, terutama untuk penggunaan jarak dekat dan situasi pengamanan. Pada bagian slide terlihat jelas penandaan “P-3A Kal. 7.65 mm”, yang menjadi identitas resmi model ini. Pistol ini digunakan oleh TNI dan Polri sebagai senjata standar. Pada tahap awal, pengembangannya masih berkaitan dengan desain senjata asing. Namun, produksi dan perawatannya kini dilakukan di dalam negeri. P3 menjadi bukti bahwa lisensi dapat menjadi pintu masuk menuju kemandirian, bukan ketergantungan jangka panjang. Kapasitas magazennya umumnya 8 butir peluru, konfigurasi standar untuk pistol kaliber 7,65 mm pada masanya. Dari segi fungsi operasional, jarak tembak efektif P3A berada pada kisaran 25 meter, cukup untuk kebutuhan bela diri, pengamanan, dan tugas kepolisian. Sistem bidikannya masih bersifat iron sight tetap, sederhana namun andal, tanpa fitur optik modern. Desain grip yang tegak dan tekstur panel pegangan membantu kontrol senjata, meskipun ergonominya masih mengikuti gaya pistol klasik Eropa.

Yang ketiga, lompatan yang lebih besar terlihat pada R-Han 122B. Roket artileri kaliber 122 mm ini dikembangkan tanpa lisensi asing. Sistem ini dirancang untuk dukungan tembakan jarak menengah dan memperkuat daya gempur TNI Angkatan Darat. Keberadaan R-Han 122B menandai kemajuan signifikan riset pertahanan nasional. Indonesia tidak hanya mampu merakit, tetapi juga merancang sistem senjata strategis dari awal. R-HAN 122B menggunakan roket kaliber 122 mm, dipasang pada kendaraan taktis berpenggerak 6×6, dengan 12 tabung peluncur yang mampu menembakkan salvo roket dalam waktu singkat untuk saturasi area sasaran. Sistem ini memiliki jangkauan tembak efektif sekitar 20–30 kilometer, tergantung jenis roket yang digunakan, serta dilengkapi sistem kendali tembak terkomputerisasi yang memungkinkan penembakan cepat, akurat, dan terkoordinasi. Seluruh unit dirancang dengan konsep shoot and scoot, sehingga setelah menembak dapat segera berpindah posisi guna menghindari tembakan balasan, menjadikannya aset penting dalam doktrin artileri modern TNI.

Selanjutnya yang keempat, di laut, kapal perang SIGMA-Class menjadi contoh kolaborasi industri yang berkembang. Kapal ini dibangun oleh PT PAL Indonesia melalui lisensi desain dari perusahaan Belanda, Damen. Meski desain awal berasal dari luar negeri, proses pembangunan dilakukan di galangan kapal Surabaya. Insinyur dan tenaga lokal terlibat langsung, sehingga tingkat penguasaan teknologi terus meningkat dari proyek ke proyek. SIGMA-class Corvette yang dioperasikan oleh TNI Angkatan Laut, dikenal di Indonesia sebagai kelas Diponegoro. Korvet ini memiliki panjang sekitar 90–105 meter (tergantung varian), berat ±1.700–2.300 ton, kecepatan maksimum ±28 knot, serta dipersenjatai dengan meriam utama 76 mm, rudal anti-kapal, sistem pertahanan udara jarak dekat, dan sensor radar modern. Dirancang dengan konsep modular, SIGMA-class unggul dalam fleksibilitas misi, mulai dari patroli, peperangan permukaan, anti-udara, hingga anti-kapal selam.

Yang kelima adalah di udara, pesawat patroli maritim CN-235 menunjukkan kemampuan Indonesia di sektor dirgantara. Pesawat ini diproduksi oleh PT Dirgantara Indonesia dan digunakan untuk pengawasan laut serta misi keamanan wilayah. CN-235 berawal dari kerja sama lisensi dengan Spanyol. Namun kini Indonesia menguasai produksi dan pengembangan sistem misinya. Pesawat ini bahkan telah diekspor ke berbagai negara. CN-235 mampu mengangkut ±35–45 personel atau sekitar 5–6 ton muatan, memiliki kecepatan jelajah ±450 km/jam, jangkauan terbang hingga ±4.000 km, serta dapat beroperasi dari landasan pendek dan tidak beraspal. Pesawat ini digunakan TNI AU untuk berbagai misi, mulai dari angkut militer, patroli maritim, pengintaian, hingga bantuan kemanusiaan, berkat desainnya yang tangguh dan fleksibel.

Lima senjata ini memperlihatkan satu pola yang konsisten. Lisensi digunakan sebagai sarana belajar, bukan ketergantungan. Dari situ, Indonesia membangun kemampuan sendiri secara bertahap.

Di tengah dinamika geopolitik global, senjata buatan dalam negeri bukan sekadar alat pertahanan. Ia adalah simbol kedaulatan, investasi teknologi, dan bukti bahwa Indonesia mampu menjaga masa depannya dengan tangan sendiri.